berita2.com (Tangerang): Keberingasan suporter sepakbola kembali makan korban. Dua remaja yang tengah melintas di Jalan Arya Kemuning, Kampung Kemuning, Kecamatan Priuk, Kota Tangerang, dikeroyok puluhan suporter Persita.
Akibat pengeroyokan itu, seorang remaja tewas dan seorang lainnya dirawat di rumah sakit, setelah mendapatkan pukulan dari batu dan kayu para suporter. Salah satu korban menderita patah tulang di bagian paha dan kaki.
Jenazah Muhammad Tomy, 17, dan Ahmad Hariri, 15. warga Kampung Sangiang RT 04/01, Kelurahan Priuk Jaya, Kota Tangerang telah dimakamkan oleh keluarga di tanah wakaf Kampung Sangiang, Kota Tangerang.
Sedangkan Ahmad Badrul Hikam,15, masih dirawat dikamar 205 RS Sari Asih, Sangiang, Kota Tangerang.
Belum ada pernyataan resmi dari pengurus klub Persita Tangerang mengenai insiden yang dilakukan oleh puluhan pendukungnya itu. Sementara petugas Polres Metro Tangerang pun masih menyelidiki siapa pelaku pengeroyokan tersebut.
Menurut Ny. Mas’unah, 45, ibunda korban Hariri, yang meninggal, pengeroyokan pada anaknya yang ke empat dari lima bersaudara itu terjadi sekitar pukul 21.00. Pelajar kelas 2 SMP Negeri 17 Tangerang itu awalnya hendak membeli nasi goreng.
Bersama Muhamad Tomy dan Hikam, Hariri mengendari sepeda motor Yamaha Mio B 6810 CIR milik Mad’isa, ayahnya. Namun dalam perjalanan sepeda motor yang ditumpangi ketiga remaja tersebut dihadang oleh puluhan suporter Persita yang tengah mencari tumpangan truk melintas di Jalan Arya Kemuning, Priuk, Kota Tangerang.
Para suporter Persita tersebut mencoba memalak ketiga remaja tersebut. Takut sepeda motornya dirampas, Hariri pun mencoba kabur, namun puluhan suporter anarkis tersebut mengejar korban.
Lantaran panik, sepeda motor yang dikemudikan korban terjatuh. Di saat itulah, para suporter langsung mengeroyok ketiganya dengan rantai besi, kayu dan batu. “Anak saya tidak pernah ikut-ikutan menjadi suporter bola. Kenapa masih dikeroyok?” ujarnya seperti dikutip poskota.
Dirinya baru mengetahui jika anaknya menjadi korban setelah seorang tetangganya memberitahu jika Hariri menjadi korban pegeroyokan oleh suporter Persita Tangerang.
Mendengar kabar tersebut, dirinya bersama Mad’isa, suaminya langsung mengecek ke rumah sakit. Sesampainya dirumah sakit, dirinya melihat dua remaja yang masih memiliki hubungan keluarga tersebut sudah tak bernyawa, sedangkan Hakim menderita luka pada kakinya yang patah.
Meski ikhlas kehilangan anaknya, Ny. Mas’unah meminta kepada polisi untuk mengusut kasus ini hingga tuntas. Pasalnya warga sekitar rumah korban sudah sangat kesal dengan ulah para suporter Persita tersebut.
Tak hanya itu, tak seorang pun pengurus dari klub Persita yang datang ke rumah korban untuk menjelaskan kronolgis kejadian yang menimpa anaknya tersebut. “Saya harap polisi bisa menangkap pelaku pembunuh anak saya,” ujar Mas’unah.
Kapolres Metro Tangerang, Kombes Taviv Yulianto mengatakan, pengeroyokan para suporter Persita tersebut dilakukan setelah anggotanya kembali ke Polres Metro Tangerang.
Namun, melihat petugas sudah kembali ke Polres Metro Tangerang, puluhan suporter Persita tersebut malah berbuat anarkis dengan memalak warga sekitar dan melakukan penghadangan kepada warga yang melintas.
Pihaknya kini tengah melakukan penyelidikan untuk mengusut siapa pelaku penyeroyokan terhadap ketiga remaja tersebut. “Kami akan mengusut siapa pelaku pengeroyokan tersebut,” ungkap Taviv.