berita2.com (Jakarta): Pengamat intelijen dan terorisme Dino Chrisbon menduga, ledakan bom bunuh diri yang memakan satu nyawa di masjid Kompleks Markas Polresta Cirebon, Jawa Barat, tak terlepas dari kelompok-kelompok garis keras selama ini. Bahkan, lebih dekat dengan kelompok yang pernah berkonsolidasi dengan pelatihan terorisme di Aceh.
"Artinya bisa sama dengan teror bom buku. Tapi memang yang di masjid ini kelompok sama dengan pelaku di masjid di Yogyakarta pada 2005," jelas pengamat intelijen dan terorisme Dino Chrisbon seperti disiarkan MetroTV, Jumat (15/4).
Pembawa bom meninggal di lokasi. Dino melihat itu sebagai pilihan pelaku. "Jaringan ini panas. Mereka menyasar kelompok-kelompok yang memusuhi mereka, ya polisi misalnya," kata pengamat terorisme itu.
Ledakan terjadi sebelum salat Jumat. Dino meyakini, "Ini bukan hal baru. Seperti di Yogyakarta, pernah juga di Masjid Istiqlal pada 1999. Pilihan pikiran pelaku, masjid bukan wilayah mereka, karena di dalamnya ada kantor polisi."
Seperti latihan di Pegunungan Jalin Jantho, Aceh, jaringan dididik memburu sasaran. "Kali ini korbannya kepolisian, mereka dibekali kemampuan menyusup langsung," jelas Dino.