berita2,com (Kupang, NTT): Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meresmikan monumen Gong Perdamaian Nusantara yang berlokasi di Taman Nostalgia, Jl. El Tari II Kota Kupang,Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa 8 Februari 2011.
Monumen yang dibangun dengan dana sekitar Rp 1,4 miliar ini, menjadi simbol perdamaian bagi masyarakat Indonesia. Gong perdamaian dilingkari logo 444 kabupaten dan kota sementara pada bagian tengah ditempatkan logo 33 provinsi di Indonesia.
Ada juga tulisan pada lingkaran paling dalam yang berbunyi gong perdamaian nusantara serta sepasang bunga pada bagian kiri dan kanan dengan tulisan “sarana persaudaraan dan pemersatu bangsa Indonesia”. Lingkaran isi berisi simbol lima agama yang diakui serta terdapat peta Indonesia.
Sekretaris Daerah Kota Kupang, Habde Adrianus Dami, yang dihubungi di Kupang, pada kesempatan terpisah, mengatakan, selain meresmian gong perdamaian, Presiden SBY akan meresmikan rumah pintar Sonaf Soet Hinef ( Tempat Menimba Ilmu) di Kelurahan Naioni, Kecamatan Alak.
Selain meresmikan Gong Perdamaian Nusantara, Presiden SBY dan Ny. Ani Yudhoyono, berkesempatan menanam anakan cendana di Taman Nostalgia, diikuti sekitar 300 warga Kota Kupang.
Rombongan Presiden SBY bersama Ny. Ani Yudhoyono bersama 21 menteri Kabinet Indonesia Bersatu jilid II, Panglima TNI dan Kapolri , yang tiba di Kupang sekitar pukul 13.50 Wita, dan akan berada di Nusa Tenggara Timur sampai Jumat 11 Februari 2011.
Selain meresmikan gong perdamaian dan rumah pintar, selama di Kupang, presiden SBY akan menghadiri puncak peringatan Hari Pers Nasional yang akan berlangsung di aula El Tari Kantor Gubernur NTT.
Selanjutnya presiden dan rombongan akan bertolak ke Atambua,dengan singgah di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) dan Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), melalui jalan darat dengan jarak kurang lebih 284 kilometer.
Kunjungan ke kabupaten yang berbatasan dengan Timor Leste tersebut dalam rangka meninjau perbatasan serta bernostalgia dengan Batalyon 744/SYB, dimana Presiden SBY pernah menjadi komandan batalyon tahun 1986-1988 semasa Timor Leste masih berintegrasi dengan Indonesia.
Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya