berita2.com (Kupang, NTT): Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, bersama sejumlah menteri Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II akan melaksanakan "Vote Komodo" di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 9 Februari 2011 mendatang.
”Pemberian suara pada biawak raksasa komodo (varanus commodoensis) itu akan dilakukan disela-sela puncak Hari Pers Nasional (HPN) Tahun 2001. Untuk itu pantia daerah telah melakukan persiapan dan telah berkoordinasi dengan protokol kepresidenan,” kata Ketua Panitia Daerah HPN tahun 2011, Andre Koreh, di Kupang, Selasa 1 Februari 2011.
Menurut Koreh, selain presiden bersama Ny. Ani Yudhoyono dan para menteri, pemberian suara juga diberikan oleh Predana Menteri Timor Leste, Xanana Gusmao, Menteri Penerangan Malaysia, lima duta besar, dan sekitar 1000 peserta HPN.
“Presiden dan peserta HPB tahun 2011 melakukan "Vote Komodo" di Kupang, sebagai tanda dukungan terhadap binatang langka itu untuk menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia ,” ujarnya .
Dia mengatakan, pemberian suara oleh Presiden sangat berarti bagi perjuangan seluruh rakyat negeri ini untuk menjadikan Komodo sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia yang akan diumumkan pada 11-11-2011 mendatang.
Dia menambahkan, Panitia Daerah HPN Tahun 2011,juga telah berkoordinasi dengan Kantor Daerah Telkom, Kupang untuk menyiapkan sarana dan prasarana pendukung, untuk kepentingan Vote Komodo, yang memberikan akses seluas-luasnya kepada peserta HPN memberikan dukungannya.
Presiden Yudhoyono , kata Koreh, akan berkunjung ke NTT selama tiga hari, mulai tanggal 8 Februari mendatang sampai tanggal 11 Februari. Selain di Kupang, Presiden akan berkunjung ke Atambua , Kabupaten Belu, untuk meresmikan Aula Yonif 744 Satria Yudha Bhakti.
“Kunjungan ke Atambua, adalah sebuah kunjungan nostalgia, karena presiden dulu pernah menjadi Komandan Yonif 744 , saat bertugas Timor Timur ketika bekas jajahan Portugis itu masih bergabung dengan Indonesia ,” jelasnya..
Yang paling unik, kata Koreh, adalah keinginan Presiden SBY dan Ibu Ani Yudhoyono untuk menginap di tenda saat mengunjungi Yonif 744 di Atambua, Belu.
"Bagi saya, ini merupakan sesuatu yang luar biasa. Bayangkan saja, presiden akan menginap di tenda. Lalu bagaimana dengan menteri, gubernur, para jenderal, bupati atau pejabat lainnya yang ikut ke sana? Apa mereka menginap di hotel atau juga harus di tenda? Hal ini akan menjadi menarik dan mungkin baru terjadi di NTT," kata Koreh.
Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya