berita2.com (Jakarta): Terkait penangkapan tiga orang petugas Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) oleh polisi Malaysia, Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Fadel Muhammad mengecam keras. "Mereka kurang ajar dan memasuki teritori kita, kita jadi keras," kata Fadel, Minggu (15/8/2010).
Pihak KKP sedang mengirim tim untuk menuntaskan kasus ini. Sebab, jika dibiarkan akan menjadi preseden buruk di masa mendatang. Ketiga petugas itu diamankan ke Johor. "Saya sudah kirim orang ke Johor, dan minta diselesaikan," paparnya.
Seperti diketahui, tiga petugas pengawas perikanan Indonesia ditahan polisi Malaysia. Mereka ditahan saat sedang menindak 5 kapal nelayan Malaysia yang melakukan penangkapan ikan ilegal di perairan Bintan, Kepulauan Riau, pada Jumat (13/8) pukul 21.00 WIB.
"Saat petugas pengawas sedang menggiring 5 kapal nelayan itu itu, polisi Malaysia mencegat dengan menggunakan tembakan peringatan," kata Dirjen Pengawasan dan Pengendalian Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (P2SDKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Aji Sularso (15/8/2010).
Aji mengatakan, Asriadi (40), Erwan (37), Seivo Grevo Wewengkang (26), ditahan lantaran tiga pria itu menaiki kapal nelayan Malaysia untuk menggiringnya ke perairan Indonesia.
"Karena dicegat pihak bersenjata, 2 speedboat kami menyelamatkan diri. Tiga pengawas kami terbawa dan akhirnya ditahan," kata Aji seraya menambahkan 5 kapal nelayan itu dibawa oleh polisi Malaysia ke Johor.
Sebetulnya, peristiwa penembakan dan penahanan terhadap petugas Indonesia sudah sering dilakukan polisi Malaysia. “Insiden seperti ini tidak hanya sekali ini saja. Sudah beberapa kali terjadi,” kata Aji.
Ia mengatakan, semua permasalahan yang terjadi dengan Malaysia itu bisa diselesaikan dengan baik tanpa menimbulkan kekerasan dan emosi dari kedua pihak. “Penyelesaian harus cepat, jangan menggunakan emosi,” katanya.
Saat ini, kata Aji Sularso , soal perbatasan antara kedua negara belum selesai dan tidak ada kejelasan sama sekali. Sehingga saling klaim antara kedua pihak terus terjadi. “Kejadian seperti ini akibat tidak jelasnya batas laut kedua negara,” kata Aji.