berita2.com (Yogyakarta): Muhammadiyah diminta untuk menjadi peneguh dan penyejuk kehidupan bangsa yang majemuk. Muhammadiyah juga harus mampu menampilkan semangat dan peran Islam yang berkemajuan, serta menjadi organisasi yang memajukan Islam yang ramah dan toleran.
Hal itu dikemukakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam sambutannya ketika membuka Muktamar ke-46 dari Madinah, Arab Saudi, Sabtu (3/7/2010), melalui satelit dan ditampilkan di Stadion Mandala Krida Yogyakarta.
Muhammadiyah dalam memasuki abad kedua, kata Presiden, harus tetap dapat menegakkan komitmen gerakannya sebagai pembawa misi Islam yang maju.
"Muhammadiyah memang harus selalu tampil di barisan terdepan untuk menjadi kekuatan perubahan yang bersifat transformatif mendukung terbangunnya umat Islam yang utama," katanya.
Presiden menilai Muhammadiyah dapat menjadi jembatan peradaban Islam antara timur dan barat.
"Dialog itu telah banyak dilakukan Muhammadiyah serta ormas-ormas lainnya. Saya menilai penting dialog tersebut terus dikembangkan," katanya.
Menurut Presiden, melalui dialog peradaban dapat diintensifkan satu sama lain, sebagai jalan untuk menyatukan kemajemukan di Indonesia.
Sebelum mengakhiri sambutannya, Presiden mengajak segenap warga Muhammadiyah dan ormas Islam untuk terus menciptakan kehidupan keagamaan yang teduh dan damai.
Kehidupan keagamaan yang mengedepankan kebersamaan daripada memperuncing perbedaan.
Presiden mengajak membangun kerja sama yang positif di antara sesama umat Islam, dan dengan umat beragama yang lain bagi kemajuan bangsa Indonesia.
"Sekali lagi saya mengajak Muhammadiyah untuk memelopori ide-ide pembaharuan sebagai pegangan misi Islam yang maju dan tumbuh berkembang dalam menjawab tantangan zaman," katanya.
Presiden ingin Muhammadiyah tidak saja sebagai ormas Islam terbesar di Tanah Air, tetapi juga salah satu organisasi Islam terbesar di dunia.
Gerakan Muhammadiyah, menurut Presiden telah membawa pencerahan dan pembaharuan pemikiran umat Islam, sehingga tidak berlebihan apabila dikatakan Muhammadiyah berhasil memperbaharui suasana intelektual kaum muslimin di Tanah Air.
Pada awal abad 21, Presiden menilai Muhmmadiyah telah memasuki abad fase kesinambungan perjuangan dalam melaksanakan Islam sebagai rahmat bagi semesta alam.
Pembukaan Muktamar ke-46 atau Muktamar Satu Abad Muhammadiyah di Stadion Mandala Krida Yogyakarta juga dihadiri antara lain mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X, Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Din Syamsudin, serta mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Amien Rais. (mko/her)