Jakarta, (berita2.com): Wakil Ketua Umum DPP Partai Demokrat Ahmad Mubarok mengemukakan bangsa Indonesia perlu berpikir panjang dan membutuhkan perubahan paradigma politik.
"Sesungguhnya bangsa ini membutuhkan perubahan paradigma, yaitu kesabaran politik dan berfikir panjang. Dewasa ini masyarakat selalu ingin memperoleh solusi cepat," katanya dalam kuliah umum bertema "Dinamika Politik Pascareformasi" di Universitas Satya Negara (USNI) Jakarta, Kamis.
Mubarok menguraikan bahwa dalam perjalanan sejarahnya, Indonesia telah mengalami sejumlah tikungan sejarah, antara lain tikungan sejarah tahun 1965 dan tahun 1997/1998.
Menurut dia, tikungan sejarah sama juga dengan tikungan jalan. Jika tikungan sejarah 1965 berlangsung sangat cepat, tikungan sejarah 1997 yang ditandai dengan gerakan reformasi berjalan lebih lambat. Selama 10 tahun sejak 1987, bangsa ini masih berada dalam suasana tikungan.
Mubarok, pemimpin nasional memiliki peran seperti matahari. Perjalanan matahari yang tertib membuat penduduk bumi atau rakyat memiliki agenda kehidupan yang teratur. Namun, ketika Soeharto berhasil merekayasa pemilu hingga selama tujuh pemilu tetap menang dan tak pernah bisa ganti presiden, maka terjadilah "lost generation" kepemimpinan.
Akibatnya ketika Soeharto jatuh tidak ada tokoh besar yang bisa menggantikanya sebagai matahari bangsa. Semua tokoh nasional pada era reformasi belum menjadi tokoh besar karena peluang membesarkan diri terhambat oleh lamanya Suharto duduk dalam kursi kepresidenan.
Mubarok mengutip sosiolog Ibn Chaldun bahwa jatuh bangunnya bangsa selalu ditandai oleh hadirnya empat generasi. Pertama, generasi pendobrak, kedua generasi pembangun, ketiga generasi penikmat. Jika generasi penikmat sudah merajalela, maka akan muncul generasi yang tak peduli kepada masa lalu (tidak menghormati pahlawan) dan juga tak peduli kepada masa depan. Ketika itu bangsa itu sudah jatuh.
Rentang waktu empat generasi itu berada dalam satu abad. Jika teori ini digunakan untuk menganalisisi Bangsa Indonesia , maka sangat memperihatinkan. Ketika usia NKRI baru 60 tahun lebih, ketika masih ada satu dua generasi pendobrak (angkatan 45) yang masih hidup dan ketika generasi pembangun masih sibuk bongkar pasang, sudah muncul begitu banyak generasi penikmat, yaitu mereka yang sibuk menikmati pembangunan tanpa berpikir membangun.
Yang paling menyedihkan ialah bahwa generasi penikmat justru mereka yang ?berdasi? dan mereka yang terdidik. "Nah yang kita ubah adalah kesadaran bahwa kini Bangsa Indonesia masih berada pada generasi pertama, generasi pendobrak. Kita harus berani mendobrak dan mendobrak," katanya.
Harapan
Menurut Mubarok, semestinya Presiden Yudhoyono sebagai presiden produk sistem baru pilihan rakyat langsung 2004 sudah harus mengakhiri periode tikungan sejarah. Rakyat begitu besar harapannya terhadap matahari baru yang tegas, kuat dan cepat memberi solusi. Ternyata Presiden SBY tampil berbeda. Jika Bung Karno dan Suharto tampil dengan "hard power", Yudhoyono tampil dengan "soft power".
Dia mengatakan, hukum alam dan hukum sosial mengajarkan bahwa kelembutan itu baru efektif jika diberi rentang waktu yang cukup. Tetesan air yang lembut bisa melubangi batu jika berlangsung lama. Tsunami yang meluluhlantakkan benda-benda keras ternyata adalah hempasan air yang lembut.
"Secara sosial, ibunda kita yang sudah berusia 90 tahun fisiknya sangat lemah, tetapi kelembutan yang ditunjukkan dalam waktu lama kepada putera-puteranya membuat perempuan lemah itu sangat berwibawa di depan anak-anaknya," katanya.
Pada periode pertama, Yudhoyono sebagai pemimpin soft sangat diragukan publik. Caci maki dan pesimisme politik selalu diarahkan ke Presiden Yudhoyono. Tetapi kepribadian dan "leadership soft" ternyata menembus hati rakyat pemilih. Pemilu 2009 membuktikan betapa kuatnya soft power, dimana SBY (dan Partai Demokrat) menang telak di hati pemilih.
Mubarok mengemukakan, kesabaran politik adalah tabah tanpa mengeluh dalam menghadapi berbagai tantangan dan hambatan, dalam jangka waktu tertentu dalam rangka mencapai tujuan berbangsa. "Kita banyak yang lupa tujuan berbangsa kita itu apa, makanya banyak yang kemudian tidak sabar," katanya.
Mubarok mengatakan, kepemimpinan nasional baru memasuki periode 2009-2014. Model-model perang cicak lawan buaya masih akan banyak dijumpai.
"Kita tidak boleh terpaku pada lima tahun sekarang, tetapi yang kita fikirkan adalah periode 30, 50, 100 tahun ke depan. Pohon politik yang kita tanam haruslah tanaman keras yang berusia puluhan tahun, bukan bayam yang bisa dipetik mingguan. Maknanya kita tidak memikirkan diri kita, tetapi lebih memikirkan anak cucu dan cicit kita generasi mendatang. Jika kita hanya memikirkan diri kita maka tidak ada kakek-kakek yang mau menanam pohon kelapa," katanya.(*/wan)