Jakarta, (berita2.com): Ketua Advokasi Rakyat Presidium Pusat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Muhammad Item menilai, tindakan penahanan dua pimpinan KPK nonaktif Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah, menggembirakan para koruptor.
"Apa pun alasan yang dikemukakan Kapolri apalagi oleh Waka Bareskrim-nya beberapa hari lalu, jelas kurang signifikan sebagai motif menangkap, dan menahan, kedua tokoh anti korupsi itu," ujarnya di Jakarta, Senin.
Karena itu, ia meminta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono agar tidak perlu lagi ragu-ragu melakukan `intervensi` untuk menghentikan kontroversi yang telah benar-benar mengoyak-ngoyak rasa keadilan masyarakat.
"Saatnya Pak SBY bertindak tegas, sesuai komitmennya menjadikan penegakan hukum, khususnya pemberantasan korupsi sebagai salah satu agenda utama kabinetnya ke depan. Jangan cuma gunakan orang lain, atau tim independen segala. Ikuti cara Bung Karno yang ketika terjadi `deadlock` di Badan Konstituante, dengan cepat dan tegas mengeluarkan Dekrit Presiden kembali ke Undang-Undang Dasar 1945. Kita butuh pemimpin bangsa yang tegas dan membela kepentingan rakyat," katanya.
Sementara itu, Koordinator Daerah (Korda) GMNI Provinsi Banten, Yusriyanto, di tempat yang sama menandaskan, pihaknya mendesak pihak Mabes Polri untuk segera membebaskan Bibit-Chandra, dengan alasan untuk `mengobati` perasaan keadilan masyarakat karena telah terkoyak-koyak oleh sikap arogansi aparat.
"Janganlah menggunakan kewenangannya untuk semena-mena menahan orang, hanya karena orang-orang itu sering tampil di publik lalu membeberkan rekaman testimoni keterlibatan beberapa pejabat tinggi kepolisian, kejaksaan dan lain-lain dalam kasus kejahatan korupsi tingkat tinggi," tegasnya.
Lima Sikap Politik
Secara garis besar, Muhammad Item lalu menyatakan lima sikap politik GMNI yang tengah disosialisasikan hingga ke tingkat basis.
Pertama, menurutnya, mendesak Mabes Polri segera membebaskan Bibit-Chandra dari kurungan dengan segera.
Lalu, kedua, Kapolri harus menyatakan permintaan maaf kepada publik atas cara-cara arogansi aparatnya dalam melakukan penangkapan, penahanan serta pengurungan Bibit-Chandra.
Ketiga, menginstruksikan kepada seluruh kader GMNI, agar segera turun lapangan sekaligus membangun kekuatan bersama semua elemen masyarakat, guna menekan jajaran kepolisian di mana-mana.
Sedangkan keempat, meminta Kapolri dan aparat terkait untuk mengundurkan diri, karena telah melalukan tindakan kurang profesional dalam proses penegakan hukum.
"Kemudian, kelima, GMNI mendukung Presiden SBY agar tidak perlu ragu-ragu lagi bertindak tegas, guna menyelamatkan penegakan hukum di negeri tercinta ini," ujar Muhammad Item.(*ek)