berita2.com (Cirebon, Jawa Barat): Sujumlah mahasiswa yang tergbung dalam Forum Diskusi mahasiswa (FORDISMA’”45), Kota Cirebon, Kamis (13/10/2011), melakukan aksi unjuk rasa di depan gedung rektorat Universitas Tujuh Belas Agutus 1945. Aksi ini sempat memacetkan Jl. Perjuangan saat mahaiswa menutup jalan dengan sebuah bangku panjang.
Puguh, Korlap aksi FORDISMA’45 Cirebon, dalam orasinya lebih banyak menyindir bahkan mengkritisi kebijakan pemerintah SBY-Boediono menjelang dua tahun pasangan Presdien RI, yang jatuh pada tanggal 20 Oktober 2011. Pada tanggal ini, mahasiswa berencana akan menurunkan massa lebih besar lagi, mengingat momentum 20 Oktober 2011 merupakan dua tahun pasangan SBY-Boediono.
Dalam orasi lain, mahasiswa meminta agar pemerintah serius dalam menuntaskan berbagai kasus di Indonesia. Seperti tragedi Semanggi I dan II, kasus pelanggaran HAM, kasus korupsi dan kasus Century yang telah merugikan keuangan negara. Termasuk 20 persen APBN untuk anggaran Pendidikan yang realisasinya baru 8 persen dari total APBN yang ada. “momentum 20 Oktober 2011 mendatang, merupakan pintu koreksi menyeluruh bagi perjalanan pemerintahan pasangan SBY-Boediono,” jelasnya.
Sementara itu, dalam aksi ini mahasiswa juga menyebarkan selebaran yang berisikan kritikan mahasiswa atas dua tahun perjalanan pemerintahan SBY-Boediono. Selain menyebarkan selebaran kepada masyarakat juga terdengar yel-yel mahasiswa yang menyatakan para koruptor agar digantung saja. Karena keuangan negara dirampok oleh para koruptor dan imbasnya mengganggu kestabilan ekonomi dan keuangan negara yang berujung pada pemiskinan rakyat.
“Kami sebagai mahasiswa dituntut untuk kritis dan peduli terhadap sekitarnya baik daerah maupun nasional, sejarah telah membuktikan mahasiswa adalah sebagai prndobrak untuk meraih perubahan yang lebih baik, untuk itu, mari sepakat satu suara pemerintahan adalah mandat dari rakyat ketika hari ini pemerintah tidak menjalankan amanat rakayat dan tunduk tertindas atau bangkit melawan sebab mundur adalah penghianatan,”tutur mahaiswa saat berorasi secara bergantian. (din)


















