berita2.com (Jakarta): Aparat keamanan menangkap pengunjuk rasa yang melakukan aksi di Jl. Diponegoro, Jakarta Pusat dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional (HKN). Mereka meminta SBY dan Boediono mundur dari kursi Presiden dan Wakil Presiden, kaena dianggap gagal melakukan perubahan di segala bidang.
Unjuk rasa pada Sabtu (21/5/2011) itu berakhir ricu. Setelah melepaskan tembakan gas air mata, polisi menangkap tujuh pengunjuk rasa karena dianggap sebagai provokator keributan.
Bentrokan itu terjadi saat pengunjuk rasa yang antara lain berasal dari Aliansi Mahasiswa Jakarta, LSM Rakyat Bersatu dan LSM Bendera (Benteng Demokrasi Rakyat) beraksi tak jauh dari Universitas Bung Karno. Pengunjuk rasa menuntut SBY dan Boediono mundur dari kursi Presiden dan Wakil Presiden. Mereka beragngapan pasangan itu gagal melakukan perubahan di segala bidang.
Dalam aksinya, pengunjuk rasa juga melakukan pembakaran ban di Jl. Diponegoro. Melihat itu, polisi cepat-cepat menutup jalan arus lalulintas dari Menteng ke Salemba.
Suasana memanas ketika petugas meminta pengunjuk rasa untuk mundur. Bentrokan pun tak terhindarkan. Aneka batu beterbangan bahkan pot kembang pecah. Polisi mengejar pengunjuk rasa lalu melepaskan tembakan gas air mata memaksa demosntran mundur.
Selanjutnya, tujuh pengunjuk rasa, termasuk Ketua LSM Bendera (Benteng Demokrasi Rakyat), Mustar Bona Ventura, dibekuk lalu dipaksa naik ke mobil tahanan dibawa ke Polres Metro Jakarta Pusat. Sore hari, mereka dikirim ke Polda Metro Jaya.
Wakasat Polres Jakarta Pusat, Kompol Indra Fadhilah Siregar, mengatakan pengunjuk rasa bertindak anarkis memaksa petugas bertindak tegas. Ia mengau sebelumnya sudah memperingatkan untuk tak membakar ban di jalan karena mengganggu arus lalulintas. “Sudah tiga kali diperingati tapi tetap diabaikan,” ujarnya seperti dikutip poskota.
Mengenai pengunjuk rasa yang ditangkap, ia beranggapan mereka telah melalukan provokasi hingga terjadi perlawanan pad apetugas yang berujung pada keributan.
Sementara itu, sejumlah aktivis 1998 menganggap pemerintahan SBY– Boediono gagal mengemban cita-cita reformasi karena rakyat miskin tambah banyak. Mereka menuntut pasangan itu mundur dari jabatannya.
“Reformasi itu belum usai. Agenda reformasi yang dulu dijaga aktivis 1998 sekarang ini malah menyimpang. Jauh dari cita-cita awal dan kami mengingatkan masyarakat untuk kembali,” kata Kasino, saat beraksi bersama sekitar 50 aktivis 1888 di depan Gedung DPR. Dalam aksi itu, aktor Pong Harjatmo. Spanduk dipasang di pintu pagar bertuliskan “SBY-Boediono Game Over, Pengkhianat Reformasi Mundur”.
Kasino menilai agend areformasi tak jalan dengan tingginya angka kemiskinan, banyaknya pengangguran, mahalnya biaya kesehatan, dan pendidikan.