"Ini menyangkut soal `rasa bangga` sebagai kader dan anggota Partai Golkar, jadi bukan masalah mekanisme (proses pemilihan Ketua Umum DPP Partai Golkar di Musyawarah Nasional VIII) lalu," ungkapnya.
Ia menyatakan itu, mengomentari silang pendapat antara sejumlah kader dan politisi partai tersebut, sehubungan masuknya beberapa nonkader yang dianggap mengangkangi konstitusi organisasi politik tertua di Indonesia tersebut.
"Karena itu, bagi saya, respon yang disampaikan oleh sejumlah pengurus DPP Partai Golkar hasil Munas berkaitan dengan tanggapan terhadap sejumlah personel pengurus (nonkader) itu, terlalu emosional, berlebihan dan di luar konteks masalah yang disampaikan," tandasnya.
Sebagai kader Partai Golkar, menurutnya, teman-teman (di luar kepengurusan melihat hasil Munas VIII di Riau, dengan terpilihnya Aburizal Bakrie (Ical) sebagai Ketua Umum, sudah sesuai dengan mekanisme organisasi, dan tidak satu pun yang mempersoalkannya.
"Yang dikritisi justru masuknya sejumlah person yang dianggap tidak sejalan, dan ada keraguan, karena rekam jejak yang bersangkutan selama ini terhadap Partai Golkar, dikaitkan dengan tugas dan fungsi pengurus yaitu mengembangkan dan memenangkan Partai Golkar pada Pemilu 2014," ungkapnya.
Memang benar, demikian Ferry Mursyidan Baldan, menurut AD/ART Partai Golkar, Ketua Umum terpilih memiliki kewenangan (hak prerogatif) untuk merekrut figur di luar kader yang dianggap mampu memberi `nilai` bagi partai.
Yang diragukan adalah adanya sejumlah nama yang nonkader jadi pengurus, yang selama ini dikenal tidak menunjukkan sikap mencintai Partai Golkar, bahkan dalam beberapa pernyataannya justru menyerang Partai Golkar, katanya.
"Hal inilah yang harus sebenarnya direspon, karena ini menyangkut itu tadi, yakni soal `rasa bangga` sebagai kader dan anggota Partai Golkar," tegasnya.
Ferry Mursyidan Baldan menambahkan, hal yang lebih `aneh` lagi, ketika disampaikan oleh beberapa pengurus DPP Partai Golkar, seolah komentar-komentar mengritisi masuknya figur nonkader itu terkait soal menang-kalah di Munas.
"Saya perlu ingatkan kepada mereka yang bicara begitu, bahwa kader Partai Golkar sudah terbiasa, dan tidak pernah mempersoalkan dalam konteks kalah-menang," katanya.
Silahkan para pengurus merasa `menang`, tetapi jangan pernah menuding pihak lain sebagai yang `kalah` dan karenanya harus disingkirkan. Sekali lagi, ini sikap `aneh` dalam etika demokrasi yang sudah tumbuh bagus di tubuh Partai Golkar selama ini," ujarnya.
Soal kalah-menang itu, menurutnya, harus dipahami secara utuh, begitu juga ketika itu terjadi ketika melihat hasil Pemilu Presiden (Pilpres) dan seterusnya.
"Artinya, harusnya pengurus sekarang sadar sesadar-sadarnya bahwa Partai Golkar dalam pilpres adalah dalam posisi `kalah`. Karenanya, jangan tampil seolah jadi pemenang. Tugas pengurus Partai Golkar adalah menghormati pemenang pilpres. Jangan pernah merasa menjadi pemenang," tandas Ferry Mursyidan Baldan.(*/wan)


















