"Sedangkan kalau seandainya berada di bawah Surya Paloh atau Tommy Suharto akan lebih dinamis," katanya terkait terpilihnya Ical pada Munas yang dihadiri lebih dari 2.000 kader partai berlambang beringin itu.
Menurut dosen Fakultas Sosial dan Ilmu Politik (Sospol) Unib itu, Golkar akan menjadi penyeimbang di pemerintahan sesuai dengan misi Ical yang akan mendukung pemerintah selama berpihak kepada masyarakat dan sebaliknya.
Enam tahun ke depan kata Lamhir, Golkar sebaiknya berbenah, apalagi berkaca pada perolehan suara pada Pemilu legislatif maupun Pilpres lalu.
"Kesulitan partai yang harus didahulukan, pascamunas ini masih ada sisa-sisa konfrontasi khususnya antara pendukung kandidat ketua DPP,"tambahnya.
Kericuhan yang terjadi dalam Munas kata dia perlu diwaspadai karena sejumlah tim sukses kandidat sudah mulai menganggap satu sama lain bukan lagi sebagai saingan tetapi lawan.
Jika hal ini tidak segera dibereskan kata dia maka akan membuat partai yang mengalami masa-masa jayanya di Orde Baru tersebut akan berpotensi konflik.
"Ini yang menjadi tugas pertama Ical, bagaimana merangkul seluruh kader agar bersatu kembali merapatkan barisan untuk memajukan partai,"tambahnya.
Apalagi kata dia perbedaan perolehan suara antara Surya Paloh dan Ical yang hanya 36 suara menunjukkan dukungan terhadap keduanya sebenarnya sama-sama kuat.
Dari 508 suara, Ical memperoleh memperoleh 296 dukungan suara, sementara Surya Paloh meraih 240 suara suara


















