Palangkaraya, (berita2.com)- Direktur Pelaksana, Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Kalimantan Tengah (Kalteng), Drs. Mirhan mengakui persoalan yang dihadapi remaja dewasa ini semakin kompleks, terkadang dapat dipecahkan namun hasilnya tidak memuaskan.
Masa remaja merupakan masa paling indah, namun di sisi lain masa remaja adalah masa yang paling meresahkan dan penuh dengan tantangan, tak jarang yang dialaminya sebagai suatu persoalan, kata Mirhan di Palangkaraya, Minggu (1/11).
Salah satu hambatan mengatasi persoalan remaja itu adalah keengganan remaja untuk mengadakan komunikasi dengan orang yang lebih tua, misalnya kakak, orang tua maupun guru.
Untuk menghadapi persolan tersebut PKBI Kalteng merasa perlu untuk membentuk suatu wadah remaja untuk berbagi cerita suka dan duka yang bertujuan membantu memecahkan persoalan remaja itu sendiri, karena remaja akan sangat terbuka dengan remaja.
Universitas Palangkaraya (Unpar) tahun 1994 melakukan studi mengenai "perilaku seksual mahasiswa" atas 55 mahasiswa yang terdiri atas 23 Laki-laki dan 32 perempuan yang usia antara 19-21 tahun .
Terbukti bahwa 70,91 persen dari responden sudah pernah melihat buku/gambar porno. 10 orang ingin melakukannya, dan 9 orang merasa senang.
Temuan lain memperlihatkan 34,55 persen responden sudah pernah melihat blue film, yang setelah melihat 7 orang telah melakukannya dan 5 orang merasa senang.
Data lain menunjukkan 94,55 persen dari responden pernah berpacaran, dan sebanyak 20 persen di antaranya sering berganti pacar dengan aktivitas pacaran 16,96 persen telah melakukan hubungan badan.
Informasi tentang seks selama ini ternyata mereka peroleh melalui guru 40 persen, teman 24,71 persen, orang tua 11,52 persen media cetak, film dan lainnya 23,30 persen.
Selain itu Youth Center SIAR PKBI Kalteng tahun 1999 juga mengadakan evaluasi terhadap prilaku remaja Palangkaraya, menyebarkan kuesioner sebanyak 100 buah yang tediri dari 55 perempuan dan 45 orang laki-laki ditujukan siswa SMU/SMK Negeri/Swasta di Palangkaraya, ternyata 100 persen responden pernah pacaran.
Dari jumlah itu 65,10 persen pernah membaca buku porno, 55,25 persen pernah melihat blue film. Informasi lain yang didapat adalah mereka mendapatkan informasi seks dari guru, 34,55 persen, orang tua 25,45 persen, teman 39,35 persen dan buku lainnya terdapat 23,23 persen.
Selain itu Youth center SIAR PKBI Kalteng juga mengadakan evaluasi terhadap perilaku remaja Palangkaraya, menyebarkan quesioner sebanyak 100 buah yang terdiri dari 55 perempuan dan 45 orang laki-laki siswa SMU/SMK negeri dan swasta di kota ini.
Ternyata 100 persen responden pernah pacaran, 65,10 persen pernah membaca buku porno, 55,25 persen pernah melihat blue film. Informasi lain yang didapat adalah mereka mendapatkan informasi seks dari guru 34,55 persen, orang tua 25,45 persen , teman 39,35 persen dan buku lain terdapat 23,23 persen.
Menurut Mirhan, Youth Center SIAR PKBI Kalteng sejak tahun 1999 mengembangkan "Pendidikan Konselor Sebaya" bekerja sama dengan beberapa SMU/SMK Negeri/Swasta di Palangkaraya, guna mengantisipasi jangkauan layanan konseling yang lebih dekat, dengan melibatkan teman-teman sekolah untuk dididik menjadi konselor sebaya.
Kegiatan itu bertujuan membantu mengatasi masalah yang dialami oleh teman-teman mereka. Di Palangkaraya terdapat beberapa sekolah misalnya SMU 2, SMKN II dan SMKN III serta SMU/SMK Isen Mulang, masing-masing sekolah memiliki kanselor sebanyak 30 orang.
Pada tahun 2005 SIAR PKBI bekerjasama dengan Biro PP Provinsi Kalteng dan BKKBN Provinsi Kalteng melakukan pelatihan konselor sebaya sekota dengan jumlah peserta 36 orang.
Diharapkan dengan adanya pelatihan itu remaja akan belajar terbuka melalui dialog dengan teman sebaya suasana yang tercipta akan lebih rileks, lebih terbuka, komunikatif, dan mereka berada pada tingkat pengetahuan, pengalaman dan persepsi yang sama mengenai remaja.
Pemberian bantuan oleh teman sebaya lebih mudah diterima karena dibuka dengan cara yang lebih akrab dan disampaikan dengan bahasa mereka sendiri dalam hal ini tidak terkesan menggurui. Pemberian bantuan oleh teman sebaya di Sekolah Menengah Tingkat membangkitkan kepercayaan diri / jati diri remaja, demikian Mirhan.(*/wan)


















