Jakarta, (berita2.com) : Sebanyak 14 provinsi di Indonesia hingga kini masih menjadi daerah endemis tinggi kusta atau morbus hansen, penyakit menular menahun yang disebabkan Mycobacterium leprae.
"Sebanyak 14 provinsi endemis tinggi, sisanya endemis rendah," kata Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama di Jakarta, Minggu.
Provinsi endemis tinggi atau provinsi yang kasus kusta barunya lebih dari seribu kasus per tahun tersebut berada di wilayah Pulau Jawa, Sulawesi, Maluku dan Papua.
"Target eliminasi kusta menurunkan angka kejadian menjadi 1/10 ribu. Secara nasional Indonesia sudah mencapai ini," kata Tjandra.
Ia mengatakan, pemerintah terus berusaha menurunkan angka kejadian kusta sesuai dengan strategi global Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) 2010 -2015, yakni mengurangi angka penderita baru dengan cacat tingkat dua atau cacat dengan kelainan bentuk tangan/kaki tahun 2010 sebesar 35 persen pada 2015.
"Indikator keberhasilan lainnya, proporsi penderita kusta anak-anak kurang dari lima persen, proporsi penderita baru dengan cacat kusta tingkat dua kurang dari lima persen, angka penemuan kasus baru kurang dari 5/100 ribu dan prevalensi kusta kurang dari satu per 10 ribu," katanya.
Upaya pengendalian kusta, menurut dia, antara lain dilakukan dengan penemuan penderita secara aktif melalui kampanye eliminasi kusta, proyek eliminasi kusta khusus di daerah yang kondisi geografisnya sulit, pencarian dan pengobatan penderita kusta tersembunyi dan intensifikasi kegiatan penemuan kasus pada daerah dengan kasus kusta tinggi.
Alliansi Nasional Eliminasi Kusta (ANEK), sebuah forum kemitraan tingkat nasional, juga dibentuk untuk membangun kerjasama dan komitmen yang kuat guna mencapai target eliminasi kusta di seluruh propinsi dan kabupaten/kota pada tahun 2015.
"Upaya advokasi juga dilakukan di setiap propinsi dan kabupaten yang belum mencapai eliminasi," katanya.
Ia menjelaskan, pemerintah juga melakukan berbagai penelitian operasional di daerah endemis tinggi untuk mengetahui prospek pemberantasan kusta pada masa depan.
Serang Syaraf
Menurut ahli penyakit kulit dan kelamin dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Sri Linuwih Menaldi, kusta adalah penyakit menular menahun yang menyerang syaraf tepi, kulit dan jaringan tubuh.
Penyakit itu utamanya terjadi di daerah tropis dan subtropis.
Masa inkubasi bakteri penyebabnya, Mycobacterium leprae, rata-rata tiga tahun sampai lima tahun.
Menurut Sri Linuwih, tanda awal penyakit ini berupa lesi atau kelainan pada kulit seperti eksim, kurap, bercak putih atau bisul yang disertai gangguan sensibilitas.
"Biasanya mati rasa," katanya.
Pertanda lainnya, kata dia, adalah pembesaran syaraf dengan gangguan sensibilitas seperti baal pada telapak tangan dan kaki.
Sementara gejalanya, kata dia, antara lain berupa bercak atau benjolan kemerahan, gangguan sensibilitas pada lengan kiri dan kanan hingga siku.
"Dapat juga disertai cacat akibat kerusakan syaraf tepi yang menyebabkan pembuluh darah mengecil sehingga ujung jari tangan biru atau dingin. Juga sensorik otonom maupun sensorik yang menyebabkan kekakuan atau kelumpuhan.
Meski tergolong penyakit menular, kusta termasuk penyakit yang sangat sulit menular karena pada dasarnya 95 persen manusia memiliki kekebalan alami terhadap serangan bakteri penyebabnya.
Penyakit yang bisa menular dengan kontak langsung secara erat dalam jangka panjang itu bisa disembuhkan dengan terapi pengobatan menggunakan Multi Drug Therapy atau MDT yang disediakan cuma-cuma oleh pemerintah.
Terapi pengobatan untuk penyakit kusta tipe Pauci Bacillary (PB) atau basil jarang membutuhkan waktu enam bulan sedangkan untuk kusta tipe Multi Bacillary (MB) atau banyak basil membutuhkan waktu hingga 12 bulan.(*un)