Hal itu dikemukakan Menko Kesra Agung Laksono menjawab pertanyaan wartawan di Jakarta, Rabu (4/1/2011) berkaitan dengan program Kemenko Kesra pada 2012.
Pada 2012 ada sejumlah program prioritas, antara lain ayng menyangkut masalah vencana alam, pendidikan, dan kesehatan.
Kemenko Kesra belum lama ini menyebutkan dalam lima tahun ke depan, ada dua target yang perlu dicapai yaitu target nasional yang tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka menengah Nasional (RJPMN) tahun 2014 dan target global, Millenium Development Goals (MDGs) tahun 2015.
Menurut Menko Kesra, angka kematian ibu (AKI) akan diturunkan dari 228 orang per 100.000 kelahiran hidup menjadi 118 (RPJMN) dan 102 (MDGs). Angka kematian bayi (AKB) akan diturunkan dari 34 per 1.000 kelahiran hidup menjadi kurang dari 15 (RJPMN) dan 23 (DGs).
Prevalensi Kekurangan Gizi dari 18,4% menjadi 15% (RPJMN) dan 18,5% (MDGs). Sedangkan Umur Harapan Hidup akan dinaikkan dari 70,7 tahun menjadi 72 tahun (RPJMN).
Pemerintah tetap berpegang pada data Badan Pusat Statistik disinkoronisasikan laporan yang diterima di Kementerian Kesehatan dan Badan Koordinasi (sekarang Kependudukan--Red) Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).
Sinkronisasi data ini perlu untuk dasar pengambilan kebijakan yang tepat. Pemerintah juga tidak mengesampingkan kecemasan para pihak yang peduli dengan masalah ini. Karena pemerintah pun sangat berkepentingan dengan masalah AKI dan AKB yang disadari merupakan barometer pelayanan kesehatan di suatu negara.
Bila angkanya masih tinggi, berarti pelayanan kesehatan di negara bersangkutan masih perlu ditingkatkan.
Untuk itu pemerintah, permasalahan tersebut bisa dicegah dengan perbaikan sistem pelayanan mulai dari pelayanan primer, pelayanan spesialistik dan subspesialistik. Termasuk sistem rujukan yang efektif sehingga diperkirakan angka kematian ibu dan angka kematian perinatal dapat ditekan sampai 80%.
Sebaiknya masyarakat perlu merencanakan Keluarga Berencana (KB), untuk mengurangi risiko saat melahirkan.
"Rencanakan anak yang diinginkan, sehingga sang ibu siap segalanya saat menghadapi kelahiran. Akan lebih baik lagi bila hanya mempunyai dua anak."
"Dalam pada itu penyebab kematian ibu hamil yang berada di desa terpencil, umumnya karena keterlambatan pengambilan keputusan saat ibu mengalami pendarahan. Hal itu terjadi ditengarai terkait kultur sebagian masyarakat yang masih memegang adat apakah keputusan tersebut dilakukan ketua adat, saudara, atau suaminya."
Agung mengungkapkan, berdasarkan pengalaman di negara maju dan berkembang, intervensi medik ternyata mampu menurunkan AKI hingga 50%.
Dalam jangka panjang kombinasi antara pendidikan dan status perempuan, peningkatan status gizi dan keluarga berencana (KB) mempunyai dampak paling besar untuk menurunkan AKI dan AKB.
Oleh sebab itu, kata Menko Kesra, bidan sebagai tenaga kesehatan yang menyebar sampai ke desa harus mampu mempromosikan kesehatan ibu dan bayi baru lahir. (her)


















