berita2.com (Surabaya, Jawa Timur): Menjadi lansia bukan berarti tak berguna atau bahkan membebani anggota keluarga lainnya. Lansia bisa hidup bahagia asal tahu caranya.
Hal ini dibahas dalam seminar bertajuk “Lansia Identik Esentrik? Kupas Tuntas Kepikunan” di Graha Amerta, RSUD dr. Soetomo, Surabaya, pada Sabtu (10/12/2012) dengan pembicara prof. dr. Marlina Setiawati Mahajudin Sp.KJ (K) dan dr. Yudha Haryono Sp.S.
Dr. Yudha menyebutkan, jumlah lansia di Indonesia sekitar 16 juta orang yang merupakan peringkat keempat di dunia. Jumlah ini akan menjadi sekitar 25,5 juta pada 2020. Ia mengatakan, mudah lupa sering terjadi pada lansia.
Demensia diawali dengan keluhan mudah lupa. Hal ini bisa normal, bisa tidak. Karena itu harus waspada jika mudah lupa. Ia menyebutkan, 30% gangguan daya ingat terjadi pada usia 50 – 59 tahun, 35% - 39% terjadi pada usia di atas 65 tahun dan 85% terjadi pada usia di atas 80 tahun.
Dr. Yudha menjelaskan, demensia adalah gangguan kognitif terutama memori disertai gangguan lain misalnya bahasa sehingga mengganggu fungsi sosialnya. Demensia bukan terjadi secara mendadak, melainkan proses kontinyu.
Ia memaparkan penyebab dan macam demensia. Penyebab primer gangguan pembuluh darah otak yaitu demensia vaskuler, angkanya 20% - 30%, misalnya stroke. Kemudian non-vaskuler yaitu demensia alzheimer yang mencapai 50%-60%. Sedangkan penyebab lain adalah depresi (4%-5%), alkohol (4%-5%), keracunan obat (1%-2%), infeksi dan degeratif seperti parkinson demensia.
Dr. Yudha merujuk 10 tanda utama Demensia Alzheimer menurut WHO yaitu lupa dimana menaruh barang, kehilangan daya ingat yang makin berat dari hari ke hari, mengalami masalah berbahasa, kesulitan melakukan akivitas sehari-hari, mengalami disorientasi waktu dan tempat, penurunan perhatian, mengalami masalah dalam berpikir abstrak, perubahan perilaku atau mood, perubahan ciri kepribadian dan kehilangan inisiatif.
Kemudian Prof. Marlina menjelaskan tentang keeksentrikan lansia. Wanita yang juga lansia namun energik dan humoris ini memaparkan penjelasan dengan gamblang sehingga menyegarkan suasana dan sering mengundang tawa para peserta yang umumnya lansia.
Ia mengatakan, tidak semua lansia menjadi bijaksana pada usia lanjutnya. Lansia kadang dianggap eksentrik oleh anggota keluarganya karena menjadi aneh dalam berpikir maupun perilaku.
Prof. Marlina menyarankan kaum lansia untuk berpikir positif, memperhitungkan masa depan dengan realistis, mudah beradaptasi, mengambil hikmah sebagai pelajaran dari kegagalan dan musibah serta menyejajarkan nilai agama dengan nilai dan gaya hidup.
“Banyak lansia pandai tapi tak bijaksana. Banyak juga lansia yang bijaksana pada masa produktifnya, tapi lalu menjadi nyentrik dan aneh. Kenapa? Kembalikan pada faktor-faktor di atas,” ujarnya.
Prof. Marlina memberi contoh tentang seorang pria lansia yang menjadi aneh dan menjengkelkan keluarganya. Ia lalu dibawa ke rumah sakit. Setelah diperiksa, ternyata ia mengalami penciutan otak dan terjadi infark-infark kecil di otak sebelah depan. Pola pikir dan perilakunya menjadi nyentrik karena gangguan di otaknya. Ini gejala dini pikun (demensia).
“Eksentrisitas lansia dapat terjadi karena gangguan psikologis, gangguan di otak atau keduanya,” ujarnya. Pro. Marlina menekankan, komunikasi penting dalam keluarga yang memiliki lansia. Jika masalah dan kebutuhan tak dikomunikasikan dan dicari solusinya, akan menjadi beban berat dan bisa menyebabkan lansia memutuskan sesuatu secara emosional yang sering berakhir tidak baik.
Ia menambahkan, menjaga kesehatan fisik merupakan keharusan. Jalan pagi selama 30 menit akan menjaga kebugaran otak dan menghilangkan penyebab lain. Paduan menjaga kesehatan fisik dan mental serta keimanan yang tinggi dan dukungan keluarga akan mencegah lansia menjadi eksentrik. (natalia)


















