berita2.com (Surabaya, Jawa Timur): Berpuasa merupakan kewajiban umat Islam, termasuk bagi penderita diabetes mellitus (DM/kencing manis). Bagaimana agar mereka dapat berpuasa tanpa terganggu kesehatannya? Masalah ini dibahas oleh dr.Sony Wibisono SpPd KEMD dan Hendarmoko Budi P. SKM dalam seminar Diabetes Mellitus dan Bulan Ramadhan di RS Premier, Surabaya, Minggu (31/7).
Ia menjelaskan, DM adalah penyakit metabolik yang ditandai kadar gula tinggi serta bisa mengakibatkan komplikasi akut dan kronis. DM disebabkan kurangnya insulin dan kerja insulin kurang baik.
Sony menyebutkan resiko yang bisa dialami pada bulan puasa yaitu kadar gula darah rendah atau justru sebaliknya tinggi, koma dan kekurangan cairan. Namun penderita DM yang terkelola dengan baik dapat berpuasa dengan aman. Ia merujuk hal ini berdasarkan hasil studi yang diterbitkan dalam Clincal and Experimental Hypertension edisi Juli 2008.
Kondisi tersebut bisa terwujud jika penderita telah mendapat saran dokter tentang kondisi kesehatannya dan mendapat obat-obatan yang sesuai selama berpuasa. Penderita juga harus dapat mengendalikan diri, tak mengkonsumsi makanan dan minuman manis secara berlebihan ketika berbuka dan sahur.
Sony memberikan tips berpuasa bagi penderita DM. Ia meminta penderita tak menghentikan pengobatan, namun dosis dan waktunya disesuaikan dengan waktu berpuasa. Usahakan menambah porsi makanan yang lambat dicerna seperti buah-buahan, sayuran dan biji-bijian sehingga tak menyebabkan lonjakan gula darah setelah berbuka. Juga usahakan makan sahur sedekat mungkin dengan waktu imsak dan subuh, bukan pada tengah malam. Ini akan membuat gula darah terjaga selama masa puasa.
“Pantaulah kadar gula darah secara ketat, misalnya 3 jam setelah berbuka atau sebelum makan sahur dan pada siang hari. Hasil pengukuran bisa menunjukkan bagaimana penderita beradaptasi dengan rutinitas baru,” ujarnya.
Sony menganjurkan penderita untuk minum banyak air tawar pada malam hari serta mengurangi konsumsi teh dan kopi karena cenderung merangsang keluarnya air seni sehingga memicu dehidrasi pada siang hari. Jika penderita mengalami gejala kadar gula rendah seperti berkeringat, gelisah, gemetar atau lemah, sebaiknya segera berbuka dengan minuman bergula yang diikuti makanan kaya karbohidrat.
“Makan secukupnya ketika berbuka dan sahur. Saat berbuka, makanlah sedikit-sedikit. Ketika sahur, makanlah buah-buahan, sayuran dan yogurt. Konsumsilah bahan makanan organik, kentang rebus dan ikan. Sebaiknya minum air putih dan bebas gula. Hindari atau kurangi makanan gorengan dan manis-manis,” ujarnya.
Sementara itu Hendarmono mengatakan, konsumsi makanan yang baik adalah harus bergizi, berimbang, beraneka ragam dan aman. Makanan bergizi harus mengandung karbohidrat, protein, vitamin, mineral dan lemak. Berimbang maksudnya jumlah makanan tepat yang sesuai umur, berat dan tinggi badan serta melihat keadaan penyakitnya. Juga frekuensi makan harus tepat.
Ia menekankan, jadwal makan serta jumlah dan jenis makanan penderita DM harus tepat. Takaran makanan harus tepat. Ini karena kebutuhan kalori tiap individu berbeda. Untuk jenis makanan, mencakup lauk hewani seperti daging, lauk nabati misalnya tahu tempe, juga dilengkapi sayuran, buah-buahan dan susu.
“Tak ada satupun bahan makanan yang memiliki nilai gizi lengkap. Karena itu, makanan sebaiknya beraneka ragam. Juga harus aman dari bahan kimia seperti pestisida dan bebas dari kuman penyakit,” ujarnya. (natalia)