berita2.com (Kota Waringin, Kalteng): Sebanyak sebelas orang mengalami penyakit kusta di dua desa kecamatan kota waringin lama, yaitu di desa Sakabulin arah Suka Raja, dan desa Tempayung.
Informasi yang didapat berita2.com bahwa jumlah penderita penyakit kusta di desa Sakabulin sebanyak 10 orang dan di desa Tempayung sebanyak 2 orang.
Dan sampai saat pihak dari Dinas Kesehatan masih melakukann pengcekan setahun sekali, hal ini dikatakan salah satu warga. Adapun tempat yang dibuat warga setempat yaitu sebuah rumah kayu yang terisolir dari kampung dengan tujuan mencegah tertular atau kontak dengan warga.
Dan di desa tempayung kedua ibu ibu yang mengalami penyakit tersebut sama dirasakan dengan penderita di desa Sakabulin. Penderita penyakit tersebut mengalami kerusakan pada tubuh berupa hidung mulai rata, jari jari habis.
Warga bernama sumarni (45) meminta pemerintah maunya memerhatikan nasip para korban penderita kusta tersebut. Pasalanya sejauh ini untuk kelangsungan hidup mereka tergantung warga yang simpati dan keluarga para penderita tersebur. (koko)
Kesehatan
Ditemukan belasan penderita kusta
Ultimo tangani stem cell breast augmentation
berita2.com (Surabaya, Jawa Timur): Teknologi kecantikan terus berkembang mengikuti kemajuan zaman, juga sebagai respon terhadap keinginan kaum wanita untuk memperoleh tubuh idaman.
Kini ada teknologi Stem Cell yang dapat memperindah bentuk suatu bagian tubuh, misalnya payudara. Teknologi ini disebut Stem Cell Breast Augmentatin yang baru tahun lalu dikembangkan di Indonesia.
Menurut dr. Enrina Diah SpBP dari Klinik Ultimo, selain untuk memperindah bentuk tubuh, Stem Cell juga bisa untuk melawan penyakit degeneratif seperti diabetes dan stroke. Penyebab penyakit degeneratif di antaranya faktor usia dan pola hidup yang tak bagus.
Ia menjelaskan, Stem Cell menggunakan lemak dari tubuh sendiri sehingga lebih aman, efektivitasnya lebih tinggi dan hasilnya alami serta minimal invasif. Lemak bisa diambil dari paha dalam atau perut bawah kemudian dimasukkan ke payudara. Jadi hasilnya sama – sama bagus. Perut jadi rata dan payudara lebih berisi.
Tak heran permintaan terhadap Stem Cell Breast Augmentation meningkat dalam beberapa waktu terakhir. Namun dr. Enrina mengatakan, Stem Cell Breast Augmentation membutuhkan peralatan dan paramedis khusus sehingga ditangani klinik Ultimo di Jakarta.
“Banyak pasien dari Surabaya yang datang ke klinik di Jakarta,” ujarnya dalam perayaan HUT pertama Ultimo di Surabaya pada Kamis (19/01/2012). Di acara ini ditampilkan Belly Dance (Tari Perut) yang memperlihatkan perut yang rata dan gerakan – gerakan lincah.
Dr. Enrina menambahkan, Stem Cell Breast Augmentation banyak dilakukan wanita usia 30 tahun ke atas, namun ada pula wanita usia 20-an yang melakukannya. Ini karena banyak wanita muda yang menginginkan tubuh sempurna.
Sebelum melakukan Stem Cell Breast Augmentation, pasien diperiksa dulu. Jika ada tumor jinak di payudara, harus diobati dulu hingga tuntas. Setelah menjalani teknologi tersebut, pasien harus mengenakan garmen khusus selama sekitar sebulan. (natalia)
Angka kematian ibu terus diturunkan
Hal itu dikemukakan Menko Kesra Agung Laksono menjawab pertanyaan wartawan di Jakarta, Rabu (4/1/2011) berkaitan dengan program Kemenko Kesra pada 2012.
Pada 2012 ada sejumlah program prioritas, antara lain ayng menyangkut masalah vencana alam, pendidikan, dan kesehatan.
Kemenko Kesra belum lama ini menyebutkan dalam lima tahun ke depan, ada dua target yang perlu dicapai yaitu target nasional yang tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka menengah Nasional (RJPMN) tahun 2014 dan target global, Millenium Development Goals (MDGs) tahun 2015.
Menurut Menko Kesra, angka kematian ibu (AKI) akan diturunkan dari 228 orang per 100.000 kelahiran hidup menjadi 118 (RPJMN) dan 102 (MDGs). Angka kematian bayi (AKB) akan diturunkan dari 34 per 1.000 kelahiran hidup menjadi kurang dari 15 (RJPMN) dan 23 (DGs).
Prevalensi Kekurangan Gizi dari 18,4% menjadi 15% (RPJMN) dan 18,5% (MDGs). Sedangkan Umur Harapan Hidup akan dinaikkan dari 70,7 tahun menjadi 72 tahun (RPJMN).
Pemerintah tetap berpegang pada data Badan Pusat Statistik disinkoronisasikan laporan yang diterima di Kementerian Kesehatan dan Badan Koordinasi (sekarang Kependudukan--Red) Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).
Sinkronisasi data ini perlu untuk dasar pengambilan kebijakan yang tepat. Pemerintah juga tidak mengesampingkan kecemasan para pihak yang peduli dengan masalah ini. Karena pemerintah pun sangat berkepentingan dengan masalah AKI dan AKB yang disadari merupakan barometer pelayanan kesehatan di suatu negara.
Bila angkanya masih tinggi, berarti pelayanan kesehatan di negara bersangkutan masih perlu ditingkatkan.
Untuk itu pemerintah, permasalahan tersebut bisa dicegah dengan perbaikan sistem pelayanan mulai dari pelayanan primer, pelayanan spesialistik dan subspesialistik. Termasuk sistem rujukan yang efektif sehingga diperkirakan angka kematian ibu dan angka kematian perinatal dapat ditekan sampai 80%.
Sebaiknya masyarakat perlu merencanakan Keluarga Berencana (KB), untuk mengurangi risiko saat melahirkan.
"Rencanakan anak yang diinginkan, sehingga sang ibu siap segalanya saat menghadapi kelahiran. Akan lebih baik lagi bila hanya mempunyai dua anak."
"Dalam pada itu penyebab kematian ibu hamil yang berada di desa terpencil, umumnya karena keterlambatan pengambilan keputusan saat ibu mengalami pendarahan. Hal itu terjadi ditengarai terkait kultur sebagian masyarakat yang masih memegang adat apakah keputusan tersebut dilakukan ketua adat, saudara, atau suaminya."
Agung mengungkapkan, berdasarkan pengalaman di negara maju dan berkembang, intervensi medik ternyata mampu menurunkan AKI hingga 50%.
Dalam jangka panjang kombinasi antara pendidikan dan status perempuan, peningkatan status gizi dan keluarga berencana (KB) mempunyai dampak paling besar untuk menurunkan AKI dan AKB.
Oleh sebab itu, kata Menko Kesra, bidan sebagai tenaga kesehatan yang menyebar sampai ke desa harus mampu mempromosikan kesehatan ibu dan bayi baru lahir. (her)
Peserta Jampersal harus ikut KB
berita2.com (JAKARTA): Para peserta program jaminan persalinan (Jampersal) mulai 2012 dipersyaratkan harus mengikuti program keluarga berencana. Sementara subsidi biaya persalinannya (klaim) meningkat dari sekitar Rp 300 ribu menjadi kurang lebih Rp 600 ribu.
"Ya ini syarat yang harus diberlakukan, semacam dipaksa begitulah. Terutama bagi ibu-ibu yang sudah beranak banyak," kata Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih menjawab pertanyaan wartawan di Kementerian Kesehatan, Jakarta, Rabu (4/12).
Menurut Menkes, bila program Jampersal tidak dibarengi dengan persyaratan setelah menjalani persalinan ibu-ibu harus ikut KB, dipastikan jumlah penduduk di Indonesia tidak bisa dikendalikan.
Dalam kesempatan ini Menkes berjanji program Jampersal yang berkitan dengan persyaratan ikut KB tersebut akan disosialisasikan seoptimal mungkin.
Sampai anak kedua
Sebelumnya Badan Kesejahteraan Keluarga Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BKK PP KB) Kabupaten Bantul (DI Yogyakarta) bekerja sama dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) agar target program kedua instansi tersebut tercapai.
Untuk mencapai target setiap pelayanan Jampersal gratis kepada masyarakat, pasangan diwajibkan ber-KB.
"Pelayanan KB itu baik melalui puskesmas, rumah sakit ketika ada persalinan, maka diwajibkan sudah ada KB, diutamakan lagi kepesertaan KB dengan memasang IUD," Kepala Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi BKK PP KB Bantul, Saebani.
Ia mengatakan, bahkan mulai tahun ini ada kebijakan baru yakni masyarakat diberikan Jampersal hanya untuk sampai kelahiran kedua, namun kelahiran ketiga dan keempat tidak dibiayai jampersal.
"Jampersal bukan untuk pasangan yang ingin mempunyai anak terus, namun hanya akan dibiayai sampai anak kedua, bahkan jampersal bukan hanya untuk warga miskin namun kalangan mampu pun bisa menggunakan jampersal," katanya.
Oleh sebab itu, kata dia dengan adanya kebijakan baru itu, setidaknya dapat mendorong pasangan usia subur untuk mengikuti program KB, terlebih kalangan tidak mampu yang memang kesulitan biaya ketika harus menjalani persalinan di rumah sakit.
"Kebijakan dari pemerintah memang diperlukan untuk meningkatkan program KB, karena dengan itu kita mempunyai kesatuan gerak, motivasi serta langkah koordinasi terhadap masing-masing lembaga yang ada," katanya. (her)
2011 kasus flu burung bertambah
berita2.com (JAKARTA): Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih mengakui penyakit flu burung pada 2011 ada peningkatan dibandingkan 2010.
"Maaf saya ralat. Kalau pada 2010 terdapat sembilan kasus, maka pada 2011 menjadi sebelas kasus," katanya menjawab pertanyaan wartawan pada acara pertemuan awal tahun 2012 di Kemenkes, Rabu (4/1/12).
Semula Menkes menyebutkan kasus flu burung pada 2011 turun dibandingkan tahun sebelumnya.
Pada akhir 2011 Direktur Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Kementerian Kesehatan Rita Kusriastuti pernah mengemukakan jumlah korban flu burung telah mengalami penurunan, namun Indonesia dinilai belum terbebas sepenuhnya dari flu burung yang sempat mewabah beberapa tahun yang lalu.
"Indonesia masih jadi `hot spot` flu burung, kita masih terus melaporkan adanya unggas yang positif H5N1 dan pada manusia juga masih dilaporkan adanya kasus," katanya, di Jakarta.
Dengan belum dapat dikendalikannya virus pada unggas itu, Rita menyatakan, Indonesia belum akan terbebas dari flu burung seperti yang menimpa dua orang kakak beradik di Bali, beberapa bulan lalu.
"Di manusia ini juga susah dilacak karena pergerakannya sangat cepat dengan semakin majunya teknologi transportasi. Seperti yang kita temukan kasus terakhir di Bali, sebelumnya di Jawa Barat, padahal tidak ada hubungan langsung antara Bali dan Jawa Barat," papar Rita. (her)
Artikel Lain...
Halaman 1 dari 10































