berita2.com (Jakarta): Semasa hidupnya mendiang Hasri Ainun Habibie berwasiat untuk mendonorkan matanya ke Yayasan Bank Mata, tempat ia pernah bekerja. Namun wasiat itu tidak kesampaian saat mantan Ibu Negara itu menutup mata pada Sabtu 22 Mei lalu.
"Sebelum meninggal Ibu berniat menyumbangkan matanya untuk Yayasan Bank Mata. Tapi saya juga tidak tahu administratifnya. Karena prosedurnya jika ingin menyumbangkan kornea harus 6 jam setelah kematian. Sedangkan ibu meninggal hari Sabtu, berarti sudah tidak bisa," tutur Sekjen Yayasan Bank Mata/Perkumpulan Penyantun Mata Tunanetra Untung Widodo di rumah duka BJ Habibie, Jalan Patra Kuningan XII, Jakarta, Senin (24/5/2010).
Ainun sendiri sudah dua kali menjadi pengurus di Yayasan Bank Mata/Perkumpulan Penyantun Mata Tunanetra. Dalam yayasan ini semua pengurusnya menjadi calon pendonor. "Kita menyimpan 15 ribu penyumbang kornea di seluruh Indonesia," ungkapnya.
Selain ingin mendonorkan matanya, Ibu Ainun juga ingin mengubah budaya Indonesia yang menganggap donor mata sebagai budaya tabu. "Dia mau donor mata jadi budaya Indonesia. Ibu mengharapkan kita semua bersahabat dengan mata," ujarnya.
"Harapan terakhir ibu, klinik (Yayasan Bank Mata) harus tetap jalan. Sumbangan dari Ibu Ainun sendiri sampai sekarang, sebesar Rp2 miliar untuk Yayasan Bank Mata," ungkap Untung lagi.
Kesehatan
Batas Waktu 6 Jam Membuat Wasiat Ainun Habibie tidak Kesampaian
JK : Kita Berjuang Sejak Darah Pertama Untuk Kemanusiaan
Jambi, (berita2.com) : Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) M Jusuf Kalla menargetkan dalam dua tahun bisa memiliki persediaan darah empat juta kantong atau dua persen dari jumlah penduduk Indonesia.
"Rumusnya itu 4X4. Artinya empat juta kantong darah untuk persediaan empat hari. Sekarang ini baru cukup untuk dua hari," katanya saat bertatap muka dengan para pengurus dan relawan PMI Jambi di Jambi,Jumat (12/2).
Lebih lanjut Jusuf Kalla menjelaskan, persediaan dan kebutuhan darah yang paling aman adalah sebesar tiga persen dari jumlah penduduk, sementara yang ada di PMI saat ini baru mencapai 1,7 juta kantong darah saja.
"Jadi targetnya dalam dua tahun tercapai itu (empat juta). Tahun ini tiga juta, nanti naik terus," kata Jusuf Kalla.
Untuk bisa mencapai target tersebut, tambah Kalla, diperlukan perubahan budaya.
Menurut mantan Wapres itu, harus mulai dikampanyenya budaya menjadi donor sebagai gaya hidup dan kebutuhan.
"Jadi menjadi donor sebagai gaya hidup. Kalau belum donor, belum sempurna, belum simpati kemanusiaan. Jadi belum lengkap," kata Jusuf Kalla.
Untuk itu Kalla merencanakan akan melakukan program jemput bola. Caranya dengan membentuk unit-unit kecil transfusi darah yang akan ditempatkan di pusat-pusat perbelanjaan, kampus-kampus maupun mesjid.
"Kita akan buat unit-unit donor menetap di tempat umum, kampus, mall, mesjid. Kita akan buat pabrik kantong darah, sehingga tidak perlu tergantung impor lagi," kata Jusuf Kalla.
Menurut Jusuf Kalla, para mahasiswa perlu diubah pandangannya bahwa berjuang bukan hanya melalui demo-demo. Menjadi penumbang darah (donor) merupakan perjuangan yang sangat mulai.
"Jadi jangan habiskan waktunya berdemo. Kita ubah dari teriakan --kita berjuang sampai titik darah penghabisan -- tetapi kita ganti --kita berjuang sejak darah pertama untuk kemanusiaan," kata Jusuf Kalla yang disambut tepuk tangan meriah.(*un)
Kelanjutan Larangan Iklan Rokok Dipertanyakan
Jakarta, (berita2.com) : Komisi Nasional Perlindungan Anak mempertanyakan kelanjutan rancangan peraturan pemerintah (RPP) tentang larangan iklan rokok ke Departemen Hukum dan HAM (Depkumham).
"Hari ini kami mengadakan pertemuan dengan Departemen Hukum dan HAM guna mempertanyakan kelanjutan dari RPP larangan iklan rokok," kata Sekretaris Jenderal Komisi Nasional Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait kepada ANTARA di Jakarta, Jumat (12/2).
Arist menjelaskan, dari hasil pertemuan itu pihak Depkumham menjelaskan bahwa RPP telah masuk proses harmonisasi.
"Mereka menjelaskan RPP tengah diharmonisasi untuk selanjutnya disosialisasikan di lintas departemen sebelum ditandatangani oleh Presiden," katanya.
Arist mengatakan pihaknya berharap Pemerintah segera menerbitkan peraturan tentang larangan iklan rokok.
"Saya harap Pemerintah segera menerbitkannya, karena Departemen Kesehatan sendiri terlihat ragu dan menyerahkan sepenuhnya kepada hasil harmonisasi di Depkumham," katanya.
Menurut Arist, hal tersebut harus dilakukan mengingat terus meningkatnya jumlah perokok di Indonesia akibat maraknya iklan, promosi dan sponsor rokok.
"Kami melihat bahwa industri rokok semakin gencar dalam menjerat generasi muda kita dengan menggunakan segala cara yang sistematis dan berakibat meningkatnya jumlah perokok secara signifikan," katanya.
Sebelumnya, melalui Forum Nasional Aliansi Total Ban yang digawangi oleh Komnas PA dan berlangsung di Jakarta 25-26 Januari 2010 di Jakarta diperoleh beberapa poin pernyataan sikap.
Yang pertama, mendesak Pemerintah untuk segera mengeluarkan peraturan pemerintah tentang pengamanan produk tembakau sebagai zat adiktif bagi kesehatan.
Kedua, mendesak semua kementerian sektoral yang terkait dengan pembahasan rancangan peraturan pemerintah tersebut untuk tetap berpijak pada ketentuan yang diatur dalam UU No 36 tahun 2009 tentang kesehatan.
Ketiga, mendorong seluruh lapisan masyarakat termasuk media untuk memberikan dukungan pada pemerintah agar menjalankan proses pembahasan yang akuntabel dan transparan.
Keempat, mendorong pemerintah untuk menolak segala bentuk intervensi baik langsung maupun tidak langsung yang dilakukan oleh industri rokok selama proses pembahasan RPP berlangsung.(*un)
Penemuan Asal Penularan HIV
Temuan itu dapat mengarah kepada pengobatan dan vaksinasi baru, demikian hasil studi oleh beberapa peneliti di University of California di San Diego, sebagaimana dikutip dari Xinhua-OANA
.
Studi tersebut melibatkan sejumlah orang yang tak disebutkan yang secara seksual telah menularkan HIV mereka ke pria lain, kata para peneliti itu.
"Dengan mengetahui asal virus yang ditularkan, para ilmuwan mungkin dapat mengembangkan vaksin baru, "microbicides" vagina dan obat guna mencegah penyebaran HIV, yang menular melalui hubungan seks," kata pemimpin penulis studi tersebut Dr. Davey Smith, pembantu profesor bidang obat-obatan di University of California San Diego, dalam siaran pers universitas yang disiarkan oleh HealthDay News, Rabu.
Yang menjadi pembahasan ialah HIV pada sperma, yang terdiri atas sel sperma dan cairan yang disebut plasma sperma. Partikel HIV yang mengandung RNA ada di dalam cairan tersebut, sementara sel sperma menyimpan DNA HIV, demikian penjelasan para penulis studi tersebut.
"Setakat ini, belum ditetapkan apakah HIV RNA atau DNA ditularkan selama hubungan seks," kata Smith. "Dengan menganalisis perbedaan genetika antara kedua bentuk ini dan virus yang akhirnya ditularkan ke orang yang baru terinfeksi, kami mendapati bahwa bentuk HIV RNA yang terkandung di dalam plasma sperma lah yang ditularkan."
Sedangkan mengenai penularan HIV ke perempuan, Smith mengatakan, "Karena kebanyakan perempuan terinfeksi HIV melalui pajanan terhadap virus itu pada sperma, HIV RNA di dalam plasma sperma tampaknya adalah pelakunya tapi ini perlu dikonfirmasi."(*ek)
14 Provinsi Masih Endemis Kusta
Jakarta, (berita2.com) : Sebanyak 14 provinsi di Indonesia hingga kini masih menjadi daerah endemis tinggi kusta atau morbus hansen, penyakit menular menahun yang disebabkan Mycobacterium leprae.
"Sebanyak 14 provinsi endemis tinggi, sisanya endemis rendah," kata Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama di Jakarta, Minggu.
Provinsi endemis tinggi atau provinsi yang kasus kusta barunya lebih dari seribu kasus per tahun tersebut berada di wilayah Pulau Jawa, Sulawesi, Maluku dan Papua.
"Target eliminasi kusta menurunkan angka kejadian menjadi 1/10 ribu. Secara nasional Indonesia sudah mencapai ini," kata Tjandra.
Ia mengatakan, pemerintah terus berusaha menurunkan angka kejadian kusta sesuai dengan strategi global Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) 2010 -2015, yakni mengurangi angka penderita baru dengan cacat tingkat dua atau cacat dengan kelainan bentuk tangan/kaki tahun 2010 sebesar 35 persen pada 2015.
"Indikator keberhasilan lainnya, proporsi penderita kusta anak-anak kurang dari lima persen, proporsi penderita baru dengan cacat kusta tingkat dua kurang dari lima persen, angka penemuan kasus baru kurang dari 5/100 ribu dan prevalensi kusta kurang dari satu per 10 ribu," katanya.
Upaya pengendalian kusta, menurut dia, antara lain dilakukan dengan penemuan penderita secara aktif melalui kampanye eliminasi kusta, proyek eliminasi kusta khusus di daerah yang kondisi geografisnya sulit, pencarian dan pengobatan penderita kusta tersembunyi dan intensifikasi kegiatan penemuan kasus pada daerah dengan kasus kusta tinggi.
Alliansi Nasional Eliminasi Kusta (ANEK), sebuah forum kemitraan tingkat nasional, juga dibentuk untuk membangun kerjasama dan komitmen yang kuat guna mencapai target eliminasi kusta di seluruh propinsi dan kabupaten/kota pada tahun 2015.
"Upaya advokasi juga dilakukan di setiap propinsi dan kabupaten yang belum mencapai eliminasi," katanya.
Ia menjelaskan, pemerintah juga melakukan berbagai penelitian operasional di daerah endemis tinggi untuk mengetahui prospek pemberantasan kusta pada masa depan.
Serang Syaraf
Menurut ahli penyakit kulit dan kelamin dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Sri Linuwih Menaldi, kusta adalah penyakit menular menahun yang menyerang syaraf tepi, kulit dan jaringan tubuh.
Penyakit itu utamanya terjadi di daerah tropis dan subtropis.
Masa inkubasi bakteri penyebabnya, Mycobacterium leprae, rata-rata tiga tahun sampai lima tahun.
Menurut Sri Linuwih, tanda awal penyakit ini berupa lesi atau kelainan pada kulit seperti eksim, kurap, bercak putih atau bisul yang disertai gangguan sensibilitas.
"Biasanya mati rasa," katanya.
Pertanda lainnya, kata dia, adalah pembesaran syaraf dengan gangguan sensibilitas seperti baal pada telapak tangan dan kaki.
Sementara gejalanya, kata dia, antara lain berupa bercak atau benjolan kemerahan, gangguan sensibilitas pada lengan kiri dan kanan hingga siku.
"Dapat juga disertai cacat akibat kerusakan syaraf tepi yang menyebabkan pembuluh darah mengecil sehingga ujung jari tangan biru atau dingin. Juga sensorik otonom maupun sensorik yang menyebabkan kekakuan atau kelumpuhan.
Meski tergolong penyakit menular, kusta termasuk penyakit yang sangat sulit menular karena pada dasarnya 95 persen manusia memiliki kekebalan alami terhadap serangan bakteri penyebabnya.
Penyakit yang bisa menular dengan kontak langsung secara erat dalam jangka panjang itu bisa disembuhkan dengan terapi pengobatan menggunakan Multi Drug Therapy atau MDT yang disediakan cuma-cuma oleh pemerintah.
Terapi pengobatan untuk penyakit kusta tipe Pauci Bacillary (PB) atau basil jarang membutuhkan waktu enam bulan sedangkan untuk kusta tipe Multi Bacillary (MB) atau banyak basil membutuhkan waktu hingga 12 bulan.(*un)
Artikel Lain...
Halaman 1 dari 5


















