berita2.com (Jakarta): Ada kekhawatiran, paska insiden teroris di Sumatera Utara (Sumut), akan terjadi pembajakan pesawat di Indonesia. Hal serupa pernah terjadi tahun 1981.
Pengamat intelijen Prayitno Ramelan menduga kelompok bersenjata yang menyerang Mapolsek Hamparan Perak di Deli Serdang, Sumatera Utara akan melakukan aksi lanjutan. Yaitu membajak pesawat maskapai penerbangan di Indonesia.
Mereka baru akan melepaskan para sandera apabila tuntutan pembebasan para rekannya yang ditahan dikabulkan. Prayitno mendasarkan analisisnya pada kejadian di masa lalu, ketika terjadi insiden pembajakan pesawat Garuda pada 1981 yang terkenal dengan sebutan peristiwa Woyla. Insiden ini terjadi tak lama setelah kelompok teroris menyerang dan membunuh empat polisi di Kosekta 65 pada 11 Maret 1981 dini hari.
Kabid Penum Mabes Polri Kombes Pol Marwoto Soeto ketika dikonfirmasi perihal kemungkinan ini menyatakan potensi ancaman sangat terbuka, mengingat para pelaku penyerangan Mapolsek Hamparan Perak belum tertangkap. Kelompok ini juga disinyalir memiliki banyak anggota yang tersebar di berbagai tempat.
“Bisa saja itu (pembajakan pesawat) terjadi, karena mereka jumlahnya masih banyak. Saat ini mereka terus berupaya mengumpulkan senjata dan dana,” ujarnya seperti dilansir okezone, Kamis (23/9/2010).
Polisi, sambung Marwoto, saat ini masih belum bisa menyebarkan sketsa wajah para teroris Medan ke sejumlah fasilitas vital seperti bandara. Itu karena identitas para pelaku masih misterius. “Tapi kita sudah menginstruksikan kepada jajaran KP3 di bandara untuk meningkatkan kewaspadaan,” ungkapnya.
Dalam sejarah tindak terorisme di Indonesia, tanggal 28 Maret 1981 tercatat sebagai hari kelam dimana anggota Komando jihad naik ke pesawat Garuda DC-9 Woyla yang akan terbang menuju Medan.
Pesawat berpenumpang 57 orang itu berangkat dari Jakarta pada pukul 08.00 WIB, transit di Palembang dan akan terbang ke Medan dengan perkiraan sampai pada pukul 10.55 WIB. Dalam penerbangan, pesawat tiba-tiba dibajak oleh lima teroris Komando Jihad yang menyamar sebagai penumpang.
Pesawat lantas dilarikan ke luar negeri. Setelah mendarat sementara untuk mengisi bahan bakar di Bandara Penang, Malaysia, akhirnya pesawat tersebut terbang dan mengalami drama puncaknya di Bandara Don Mueang di Bangkok, Muang Thai tanggal 31 Maret.
Dengan bersenjatakan senapan mesin dan dinamit, para teroris menuntut pembebasan 20 tahanan politik yang terlibat peristiwa Cicendo di Bandung, Jawa Barat. Dalam Peristiwa Cicendo, 14 anggota Komando Jihad membunuh empat polisi di Kosekta 65 pada 11 Maret 1981 dini hari.
Pasukan Kopassandha yang dipimpin Letnan Kolonel Infanteri Sintong Panjaitan. kemudian mencoba membebaskan para penumpang dan awak pesawat Garuda. Dalam aksi penyergapan di Bandara Don Mueang, Bangkok itu, empat pembajak tewas. Sementara, dua pilot pesawat dan seorang pasukan komando tewas.
Perlu diketahui, insiden penyerangan Mapolsek Hamparan Perak di Deli Serdang, Sumatera Utara diduga kuat dipicu aksi penangkapan para teroris yang terlibat dalam perampokan Bank CIMB Niaga di Medan pada Minggu lalu.
Dalam penggerebekan tersebut, polisi menembak mati tiga teroris dan menangkap belasan orang lainnya. Disebutkan polisi berhasil menangkap 19 terduga teroris di Sumatera Utara dan Lampung.
Sementara itu pihak Bandara Soekarno Hatta meningkatkan kewaspadaan menyusul adanya penyerangan di Polsek Hamparan Perak oleh kelompok bersenjata.
"Kewaspadaan selalu ada, dan kita tetap berkoordinasi dengan instansi yang lain,"kata Adi Kandrio Kepala Bidang Operasional Administrator Bandara Soekarno Hatta.
Namun Adi tidak menjelaskan secara rinci bagaimana bentuk kewaspadaan tersebut karena semuanya sudah diatur dalam Standar Operasional Prosedur (SOP). "Pengamanan masih biasa saja, namun kami tetap waspada,"tegasnya lagi.
Sementara itu Humas PT Angkasa Pura II, Andang Santosa mengatakan untuk pengamanan pasti akan dilakukan tidak hanya oleh aparat kepolisian bandara namun juga dari sekurity bandara. Misalnya saja lanjut Andang para sekurity itu biasa melakukan pengecekan seperti x-ray serta lingkungan bandara lainnya.
"Pengamanan dan kewaspadaan pasti dilakukan ada atau tidak adanya kejadian. Dan ini untuk mencegah kejadian yang tidak diinginkan,"pungkasnya.
Sebelumnya, pengamat intelijen Prayitno Ramelan menduga kelompok bersenjata yang menyerang Mapolsek Hamparan Perak, Deli Serdang, Sumatera Utara akan melakukan ancaman lanjutan. Ancaman itu, kata Prayitno bisa dilakukan dengan cara membajak pesawat maskapai penerbangan di Indonesia.
Hal itu dilihat dari pengalaman tahun 1980 dimana pernah terjadi hal yang serupa yaitu penyerangan di Polsek yang selanjutnya dilakukan pembajakan pesawat dan dibawa ke Thailand.