berita2.com (Jakarta): Museum Sejarah Jakarta (MSJ) kembali menduduki peringkat I dalam jumlah pengunjung di antara museum-museum yang berjumlah 5 di Kota Tua, Jakarta. Hal itu diakui Kepala UPT Kota Tua Drs Candrian Kamis 30 Desember 2010. Sedangkan peringkat II biasanya diraih Museum Wayang yang letaknya hanya berseberangan jalan atau Museum Bank Indonesia di jalan yang sama.
Mengenai pengunjung MSJ, Dachlan S.Kar selaku PLH Kepala UPT museum tersebut mengungkapkan tahun 2010 sampai November jumlahnya mencapai 415.639 orang termasuk wisman (wisatawan mancanegara) 56.773 orang. Sedangkan hasil retribusi yang sudah disetorkan ke Kas Daerah Rp557.954.200. Berarti lebih 3 kali lipat dari target sebesar Rp130 juta. Tahun lalu pengunjungnya 301.868 orang dengan hasil retribusi Rp414.661.500.
Diperkirakan Desember ini pungunjung museum bertambah 50.000 orang sehingga total mencapai 465.000 dengan retribusi total Rp 600 juta lebih. “Soalnya selama Desember ini banyak event misalnya pergelaran Rekonstruksi Sejarah dan festival-festival sehingga pengunjungnya melimpah,” tambah Sahuri staf bagian data pengunjung MSJ.
Dachlan menjelaskan dengan berlimpahnya pengunjung maka Museum Sejarah Jakarta perlu pengaturan ulang tata pamer dan gudang penyimpanan untuk penyelamatan koleksi yang ada. Perencanaannya dilakukan tahun 2011 mendatang. Dijelaskan, bangunan yang selama ini untuk kantor akan dijadikan 3 tingkat. Satu tingkat nantinya untuk gudang konservasi dan satu lagi untuk gudang penyimpanan sekaligus dipamerkan.
Kepala Seksi Koleksi dan Perawatan MSJ, Dra Dwi Martati mengungkapkan jumlah koleksi yang utuh sekitar 2000 buah di luar buku-buku kuno milik perpustakaan setempat. Diakui untuk konservasi dan sekaligus pameran diperlukan ruang yang representatif. Terutama untuk menampilkan mebel kuno dari abad 17 sampai abad 19 secara runtut. Banyak koleksi MSJ yang sangat langka seperti kursi antik dari tahun 1640 bergaya Itali, asli bikinan Eropa. Sedangkan meja kursi abad ke 18 dan 19 juga banyak, tetapi sudah bikinan tukang di Batavia meskipun gayanya Eropa, bercampur Cina dan Jawa.
Koleksi unik pedang eksekusi bertahun 1835. Pada bilah pedang untuk memenggal leher terpidana mati itu terdapat grafir tulisan berbahasa Jerman “Gott teil dem Armen sunder das Erbarmen” yang artinya “Tuhan mengasihi orang yang berdosa ini”. Sedang pada sisi bilah lainnya bertuliskan bahasa yang sama.Artinya “Hati-hati dengan lidah Anda, supaya lidah Anda tidak bicara buruk….dst” Bangunan MSJ dulunya Gedung Pengadilan di samping Balaikota Batavia.
Koleksi unik lainnya adalah patung Dewa Hermes asli yang pernah “hilang” dari tempatnya di jembatan Harmoni tahun 1999. Sedang yang di Harmoni kini tinggal replikanya saja. Meriam Si Jagur juga termasuk koleksi unik dengan kepalan tangannya “porno” yang konon berarti simbul kesuburan. Meriam Portugis panjang 3,81 meter itu dibawa VOC ke Batavia sesudah merebut Malaka tahun 1641. Nama si Jagur diperkirakan karena meriam itu pernah memperkuat artileri benteng St Jago de Barra di Macau, Cina, sebelum dibawa ke Malaka.
Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya