berita2.com (Jakarta): Festival Museum 2010 yang berlangsung di FX Plaza Senayan, Jakarta Selatan sejak 10-12 Desember kemarin banyak menyuguhkan keunikan dan atraksi menarik masing masing stan museum. Begitu dibuka Asisten Kesmas Sekda Provinsi DKI Jakarta, Ir Oloan Siregar, Jumat 10 Desember 2010 sore, pihak museum menyambutnya dengan berbagai cara.
Stan Museum Serangga dan Kupu-kupu misalnya, memberikan kepada Oloan Siregar seekor belalang sembah (walang kadung) yang dibiarkan merambat ke dada pejabat ini.
Lebih unik lagi Museum Harry Darsono, pemilik museumnya sendiri menyambut pejabat ini dengan sebuah lagu klasik yang dilantunkan seorang perempuan modist dan diiringi piano yang dimainkannya sendiri dengan gaya gemulai namun energik.
Museum Bahari menyuguhkan atraksi membuat kerajinan perahu-perahu tradisional di lantai III FX Plaza dan Museum Tekstil memperagakan cara membatik. Museum Listrik dan Energi Baru tak kalah uniknya dengan permainan beraliran listrik yang mengejutkan yang disediakan untuk pengunjung stan. Walhasil semua museum menjadi menarik.
Sebagaimana pesan Gubernur DKI Jakarta yang disampaikan Oloan Siregar, museum di Jakarta yang berjumlah lebih dari 50 museum itu bukan hanya menyimpan benda purbakala, tetapi juga menjadi sarana edukasi masyarakat agar tidak melupakan sejarah.
Sedang Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta Arie Budhiman menjelaskan festival museum ini pertamakali di Jakarta. Event ini diikuti 40 museum di Jakarta yang diselenggarakan dalam memeriahkan Tahun Kunjungan Museum 2010 dan sebagai awal Gerakan Nasional Cinta Museum 2010-2014.
Marissa sebagai Supervisor Event menjelaskan mengapa pihak FX Plaza bersedia bekerjasama dengan Disparbud DKI menyelenggarakan acara ini? “Sebab ini merupakan gaya hidup. Sedangkan FX Plaza ini merupakan life style mall,” katanya. Aspek-aspek sejarah kehidupan manusia dan segala kebutuhan dan peradabannya memang terekam di museum melalui koleksi dan informasi yang disuguhkannya.
Menurut Marissa, FX Plaza Senayan dengan 50 tenant (penyewa) tiap hari dikunjungi rata-rata 8000 orang/hari. Ini cukup membantu menyerap dan menyebarkan informasi keberadaan museum yang ikut festival tersebut.
“Bahkan kalau week end pengunjungnya dapat mencapai 10.000 sampai 13.000 orang per hari,” katanya. Diharapkan dengan mengetahui kesejarahannya, masyarakat akan ikut memelihara benda dan bangunan bersejarah agar lestari dapat dinikmati oleh generasi demi generasi berikutnya. Hari terakhir kemarin diadakan sarasehan di lantai I dan talk show permuseuman di lantai III.
Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya