berita2.com (Jakarta): Balai Konservasi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) DKI Jakarta selain menjalankan fungsi edukatif juga diharapkan dapat mengintensifkan riset. Sebab kedua fungsi itu sangat menunjang fungsi –fungsi lain Balai Konservasi tersebut dalam upaya pelestarian benda cagar budaya.
Demikian ditegaskan Kepala Disparbud DKI, Arie Budiman ketika membuka Workshop Konservasi Media Kertas di balai tersebut, Selasa (8/6/2010). Workshop ini berlangsung 3 hari dan diikuti 75 orang siswa dari 5 sekolah yaitu SMAN 68 Jakpus, SMAN 19 Jakbar, SMAN 83 Jakut, SMAN 25 Jakpus dan SMAN 5 Tangerang.
Menurut Arie Budiman, ini penting untuk mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin timbul berkaitan dengan upaya pelestarian benda cagar budaya yang menjadi koleksi berbagai museum. “Sebab koleksi koleksi ini perlu perbaikan dan perawatan yang merupakan tanggungjawab kita semua,” kata Arie.
Sebagai narasumber, Ana Soraya, Kepala Seksi Konservasi Perpustakaan Nasional menjelaskan, dalam konservasi media kertas dilarang menggunakan laminating karena plastiknya mengandung asam. Sebagai gantinya dilakukan dengan metode enkapsulasi dengan menggunakan plastic laminasi yang bebas asam. Carannya plastic laminasinya lebih besar dari objek yang dikonservasi, sehingga dapat dibuka kembali tanpa menimbulkan kerusakan.
“Semua Koran-koran kuno di Perpustakaan Nasional menggunakan konservasi ini,” kata Soraya. Bahannya selain plastic bebas asam, juga double tape dan Japaness tissue.
Guru Sejarah SMAN 68 Nur Bujdiharti dan guru disain interior sekolah yang sama, Ertin mengakui perlunya konservasi kertas dipelajari para siswa sekolahnya. “Ini perlu untuk koleksi perpustakaan. Karena tiap sekolah kan memilikinya,” kata Nur dan Ertin. Bagi siswa seperti Firman dan Ridho dari SMAN 25 cara enkapsulasi itu hal yang baru.
Bahkan mereka baru tahu bahwa system laminating dilarang untuk ijazah, sertifikat dan dokumen penting karena merusak kertas berharga yang seharusnya dilindungi dengan laminating tersebut


















