berita2.com (Jakarta): Pengunjung Museum Wayang di Jl Pintu Besar Utara, Kota Tua, Jakarta Barat, dalam Tahun Kunjungan Museum 2010 ini meningkat lebih 100 persen dibanding tahun 2009.
Tercatat tahun lalu pengunjungnya 80.526 orang, atau rata-rata 6.710 orang per bulan. Sedangkan selama lima bulan terakhir ini pengunjung museum tersebut rata-rata mencapai 13.961 orang per bulan, yang berarti meningkat 108 persen. “Peningkatan ini disebabkan banyak faktor,” ujar Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT), Museum Wayang Dachlan SK, usai mengikuti Wakil Gubernur DKI Jakarta Prijanto membuka rangkaian peringatan HUT ke 483 Kota Jakarta di Taman Fatahillah Kota Tua Jakarta, Minggu (30/5/2010) . Dalam rangka HUT ke 483 Kota Jakarta, 71 acara seni budaya, olahraga dan kegiatan social akan digelar di berbagai tempat di Jakarta, sampai akhir Juni.
Menurut Dachlan, beberapa penyebab meningkatnya kunjungan wisatawan itu antara lain karena selesainya pembenahan Kota Tua, sehingga kawasan tersebut kini menjadi ikon baru kota Jakarta. Di samping itu penataan ruang dengan tata pamer yang lebih leluasa dalam museum, dengan selesainya pemugaran gedung baru, membuat pengunjung lebih nyaman.
“Sejak tahun ini kita membuat tema untuk pameran dan program acara pergelaran yang berganti tiap setengah tahun,” katanya. Pengaturan alur atau touring para pengunjung di dalam museum kini juga lebih nyaman, dari gedung lama lantai bawah ke atas, kemudian turun lagi di gedung baru dengan disediakan kedai cinderamata yang berkaitan dengan tema dan koleksi museum.
Sebagai tempat rekreasi pendidikan seni budaya dan sejarah, Museum Wayang juga membuat program bagi wisatawan atau pengunjung yang datang secara rombongan. Misalnya untuk anak-anak murid TK, SD sampai SMP diberikan workshop pembuatan wayang suket (rumput), wayang janur, wayang dari karton, menabuh gamelan terutama gending-gending dolanan, dan dialog interaktif. Praktik mendalang bagi anak-anak sekolah juga diberikan dengan niyaga (penabuh gamelan) juga dari anak-anak.
Ke depan akan disuguhkan audiovisual dengan cerita wayang animasi untuk memperkenalkan tokoh-tokoh wayang dan karakternya masing-masing kepada anak dengan durasi 15 menit. Kini sedang dalam proses shooting bekerjasama dengan tim kreatif. ”Ini sebagai pelayanan kami dalam Tahun Kunjungan Museum,” katanya.
Dalam peluncuran Peringatan HUT ke 483 Kota Jakarta hari Minggu kemarin disuguhkan pergelaran wayang kulit dengan dalang cilik Ali Yudistira, murid klas 5 SD Pekayon Jaya I Bekasi dengan lakon Anoman Duta dari ceita Ramayana. Kata ayahnya, Sunaryo, putra tunggalnya itu belajar mendalang di Sanggar Suko Budoyo, Penggilingan, Cakung, Jakarta Timur sejak umur 4 tahun. Tampak sekitar 50-an pengunjung menikmati pergelaran tersebut, di antaranya belasan turis asing justru menonton secara benar, yaitu di balik layar dengan hanya melihat bayang-bayang wayang kulit yang dimainkan.
Wandoyo, Ketua Bidang Pergelaran Pepadi (Persatuan Pedalangan Indonesia) DKI Jakarta, menambahkan, niyaga dan pesindennya juga dari Karawitan Marsudi Laras, Bekasi Timur. Dia mengatakan bakat Ali Yudistira dalam mendalang cukup kuat. Antawacana (monolog) dan suluk (intro)nya sudah bagus. Yang perlu banyak latihan adalah pemegang wayang dalam melakukan 'sabetan' harus lebih sering. “Latihannya harus tiap hari,” katanya. (Suprihardjo)


















