berita2.com (Jakarta): Besarnya alokasi anggaran untuk pendidikan dalam APBD 2010 yang mencapai 5,92 triliun atau 24 persen dari total Rp24,7 triliun tidak menjamin tingginya prestasi kelulusan.
Terbukti tahun ini prosentase kelulusan tingkat SMA/SMK/MA melorot. Dibanding tahun ajaran 2008/2009 yang mecapai 95,5 persen untuk tingkat SMA dan 97,65 persen tingkat SMK kini tingkat kelulusan hanya mencapai 90,6 persen dan 92,18 persen.
Artinya untuk tahun ini sebanyak 5.588 siswa SMA dari total 59.898 siswa dan 5.785 siswa SMK dari 73.968 siswa dinyatakan tidak lulus Ujian Nasional (UN). Terkait hal ini kalangan DPRD DKI mendesak Guebrnur, Fauzi BOwo untuk lakukan evaluasi terhadap kinerja Dinas Pendidikan (Disdik) DKI. Utamanya mengenai Sumber Daya Manusia (SDM) yang berada di unit kerja tersebut termasuk pelaku pendidik yakni guru. Mengingat para guru telah memperoleh pendapatan dan penghasilan yang cukup tinggi.
Hal tersebut diungkapkan Inggard Joshua, Wakil Ketua DPRD DKI yang membidangi masalah kesejahteraan, menyatakan harus dilakukan verifikasi dari 9,6 persen, SMA, SMK, MA negeri-swasta yang tidak lulus dalam UN. Sehingga dewan dapat menarik kesimpulan, sekolah negeri atau swasta yang lebih berkualitas pendidikannya. Tidak hanya itu evaluasi juga ditujukan sebagai pertimbangan dana APBD yang digelontorkan apakah optimal dalam membantu peningkatan kualitas pendidikan.
Ditambahkan politisi Partai Golkar, meningkatnya angka tidak lulus di DKI dalam UN ini harus dikajian dan pemetaan yang sahih untuk mendapatkan faktor penyebab yang otentik. Disdik harus mencari tahu sekolah mana saja yang tingkat kelulusannya paling rendah. Baik itu sekolah negeri maupun swasta.
Setelah diketahui sekolah mana yang paling rendah tingkat kelulusannya, perlu dicari tahu faktor pemicunya. “Dicek apakah infrastrukturnya memadai, pengajarnya berkualitas, efektifitas kegiatan belajar mengajar dan karakter siswanya seperti apa. Setelah itu dicari tahu solusi untuk meningkatkan kualitasnya,” ungkap dia, Senin (26/4). Ia menambahkan, kejadian ini harus jadi bahan introspeksi bagi semua pihak, seperti sekolah-sekolah, suku dinas pendidikan dan dinas pendidikan.
Sementara itu menanggapi fenomena tersebut, Gubernur DKI, Fauzi Bowo, menyatakan prosentase kelulusan yang ada saat ini belum final. “Penentuan angka kelulusan akan ditentukan usai UN ulangan,” ujar Fauzi di Balaikota.
Sebelumnya seperti data yang dilansir Dinas Pendidikan DKI, kelulusan SMA Jakarta tahun ini hanya 90,672 persen. Tingkat kelulusan paling rendah di wilayah Jakarta Utara dan Kepulauan seribu 83,340 persen. Disusul oleh, Jakarta Pusat sebesar 83,547 persen, Jakarta Selatan 92,099 persen dan Jakarta Timur 92,817 persen. Sekolah yang paling terpuruk adalah SMU 15 Sunter, Jakarta Utara. Dari 191 siswa 124 diantaran tidak lulus UN.
Sedangkan untuk tingkat SMK tingkat kelulusan mencapai 92,18 persen. Dengan rincian Jakarta Selatan 93,70 persen, Jakarta Timur 92,99 persen, Jakarta Barat 95,93 persen, Jakarta Utara 86,06 persen dan Jakarta Pusat 86,22 persen. Sementara sesuai dengan agenda pendidikan UN ulangan akan digelar pada 10-14 Mei 2010.