
berita2.com (Jakarta): Anggota Paskibra DKI melaporkan tiga seniornya ke Polda Metro Jaya, Jumat (3/9/2010), karena mendapat pelecehan dari seniornya. Dia, L, paskibra laki-laki, disuruh push up telanjang bulat.
"Rencananya saya dan putra saya akan melapor ke Polda Metro pukul 15.00 WIB besok. Karena dia sudah paham kalau Purna Paskriba Indonesia salah," ujar Jusuf Ginting, orangtua korban, di Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Jl Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (2/8/2010).
Jusuf adalah orang tua L (16), laki-laki, yang pernah disuruh melakukan push up dingin. Push up ini dilakukan oleh 3-4 orang anggota Paskibraka putra. Mereka akan tiduran secara bertumpuk-tumpuk dengan kondisi basah dan telanjang bulat. "Ini kan sudah di luar nilai-nilai kemanusiaan dan keagamaan," tegas Jusuf.
Akan ada tiga senior yang dilaporkan ke polisi. Mereka adalah A serta dua orang rekannya. Namun nama ketiga orang tersebut tidak pernah tercantum dalam daftar panitia.
Jusuf sangat menyesalkan kejadian tersebut menimpa anaknya. Terlebih lagi, perjuangan anaknya untuk sampai bisa masuk ke Paskibra, amatlah berat.
"Proses rekrutmen juga panjang, dari mulai kecamatan hingga tingkat nasional, dilakukan sejak April hingga Agustus. Saya tidak setuju dengan cara pelatihan ini," tegas dia.
Jakarta - Anggota Paskibra yang diduga mengalami pelecehan seksual beserta para orangtuanya diperiksa Polda Metro Jaya. Orangtua mengaku kecewa dengan perlakuan senior Paskibra yang dianggap tidak ada kaitannya dengan kegiatan Paskibra.
"Coba kalian bayangkan, anak saya baru gadis disuruh berbaris telanjang, nggak boleh. Sory-sory saja, apa hubungannya menaikkan bendera dengan telanjang. Mereka disuruh baris telanjang, its too much," kata orang tua salah seorang Paskibra, SDN, Loren Neville di Mapolda Metro Jaya, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Selasa (31/8/2010).
Loren khawatir, adegan berbaris telanjang yang dilakukan oleh anaknya beserta teman-teman Paskibra atas perintah senior tersebut direkam. Sebab saat peristiwa itu terjadi, ada salah satu senior yang sedang membawa ponsel kamera.
"Dan yang disuruh telanjang itu, mereka baru gadis. Itu sexual exploitation. PPI harus dibubarkan. Dan kalo bisa yang profesional, bukan yang begini," ujarnya kesal.
Menurut Loren, hari ini yang diperiksa yakni SDN, I dan Loren sendiri sebagai orangtua siswa dan beberapa orangtua siswa lainnya.
Salah satu orangtua siswa lain, Wier Ritonga mengatakan, setiap kali mandi pagi dan sore hari, dalam hitungan 1 sampai 10 mereka disuruh melipat pakaian lalu berbaris telanjang ke kamar mandi, begitu juga sebaliknya. "Itu tidak wajar. Sampai sekarang anak saya syok dan bingung karena di sekolahnya juga ditanya-tanyain," keluh Wier Ritonga.
Sementara orangtua L, remaja putra yang juga menjadi korban pelecehan seksual, Yusuf, mengaku keberatan atas perlakuan para seniornya yang dikenal dengan istilah 'push up dingin'.
"Dimana 3 sampai 4 orang anak, tidur di atas temannya dalam kondisi basah dan telanjang. Tapi itu hanya selama pelatihan," terang Yusuf.
Saat ditanya kenapa keberatan melakukan tidur telanjang, Yusuf mengaku anaknya merasa tidak nyaman. "Dia tidak merasa nyaman, kan bertentangan dengan nilai-nilai keagamaan dan ini ini diperintahkan oleh senior yang tidak terdaftar sebagai panitia," kata Yusuf.
Metropolitan


















