Bengkulu, (berita2.com) : Pembalakan dan perambahan liar yang terus berlangsung di beberapa daerah di Bengkulu, mengancam kerusakan ekosistem hutan lindung.
"Awalnya pembalakan itu terjadi setelah memanfaatkan kayu hasil perambah membuka kawasan hutan yang kemudian secara diam-diam dipasarkan ke ibukota kabupaten dan Kota Bengkulu, kata Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Bengkulu Chairil Burhan, Minggu (7/3).
Akibat perambahan itu kayu-kayu berusia ratusan tahun tumbang dan dijadikan kayu olahan, sedangkan lahannya dijadikan kebun tanaman keras seperti kopi dan kayu manis.
Penangkapan kayu-kayu tanpa dekumen itu marak terjadi di Kabupaten Rejang Lebong, Kepahiang, Lebong dan Bengkulu Selatan, karena daerah ini berbatasan langsung dengan provinsi tetangga yaitu Sumatra Selatan (Sumsel).
Ia menjelaskan, dalam satu bulan Dinas Kehutanan Kabupaten Bengkulu Selatan sudah mengamankan kayu tanpa dokumen mencapai ratusan meter kubik yang diduga hasil pembalakan liar dari kawasan hutan lindung dan hutan produksi terbatas (HPT.
Untuk menekan praktek pembalakan liar itu Dinas Kehutanan bersama kepolisian dan TNI melakukan operasi rutin dengan menyisir wilayah perbukitan, terutama daerah hutan lindung di perbatasan, katanya.
Sementara Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Bengkulu Selatan Ir Junior Hafiz mengakui, praktek perambahan dan pembalakan liar masih terus terjadi di daerah itu.
"Dalam dua pekan terakhir ini petugas kami mengamankan kayu ilegal dan menemukan kawasan dirambah secara besar-besaran," katanya.
Hasil tebangan liar, katanya, diperkirakan dari hutan lindung register 78 HPT Bukit Rabang, di bagian hulu sungai Seredangan dan diangkut melalui sungai.
Setelah melewati sungai, oknum perambah lainnya telah menunggu di bagian hilir dengan mengangkut kayu tersebut untuk diletakan di tempat persembunyian sekitar sungai.
Lalu dari tempat tersebut kayu diangkut menggunakan sepeda motor, karena menggunakan jalan setapak dan terjal. Sampai di tempat aman atau bisa dijangkau kendaraan roda empat baru diangkut.
Kendati pelakunya belum ada satupun yang tertangkap, namun petugas sudah mengantongi indentitasnya, tinggal menunggu waktu dan hari yang tepat untuk menangkapnya.(*un)