Penghuni permukiman miskin mungkin meninggal lebih cepat dibandingkan dengan warga di lingkungan yang lebih kaya, tak peduli dengan makanan yang mereka santap, seberapa aktif mereka, atau faktor resiko lain individu, demikian hasil penelitian baru.
Temuan itu --bahwa di mana anda tinggal mungkin mempengaruhi berapa lama anda hidup-- berasal dari studi atas lebih dari 565.000 orang yang berusia di atas setengah baya dan orang Amerika yang lebih tua yang terdaftar di NIH-AARP Diet and Helthy Study, yang mengumpulkan data terperinci mengenai makanan, gaya hidup, dan sejarah medis.
Ciri khas permukiman diambil dari data Census AS buat tahun fiskal 2000.
"Ada peningkatan resiko kematian dari setiap penyebab atau kanker di permukiman yang buruk secara sosial-ekonomi," kata Dr Chyke Doubeni kepada Reuters Health. Sesuatu yang patut diperhatikan, katanya, ialah perbedaan itu "tetap ada bahkan setelah diperhitungkannya perbedaan dalam pola makanan dan resiko lain kesehatan tingkat individu."
Doubeni, pembantu profesor dalam bidang kesehatan masyarakat dan obat keluarga serta wakil asisten pembantu rektor bagi keragaman hayati di University of Massachusetts Medical School di Worcester, menyampaikan temuan timnya pada Selasa (8/12) di American Association for Cancer Research (AACR) Conference on Frontiers in Cancer Prevention Research, yang berlangsung di Houston.
"Kami berharap bahwa segera setelah kami memantau semua faktor resiko medis dan gaya hidup ini, perbedaan akan hilang," kata Doubeni di dalam satu pernyataan dalam konferensi tersebut. "Kami terkejut bahwa perbedaan masih ada setelah pemantauan faktor gaya hidup seperti merokok, makanan, olahraga dan resiko medis."
Di antara peserta studi itu, lebih banyak orang dewasa dari permukiman yang paling parah melaporkan kondisi makanan dan kesehatan secara keseluruhan yang lebih buruk dan rata-rata bobot tubuh yang lebih berat. Bahkan ketika semua faktor resiko ini dan yang lain diperhitungkan, peluang mereka untuk meninggal tetap naik sementara tingkat perlucutan sosial-ekonomi di tempat tinggal mereka naik, demikian temuan Doubeni dan rekannya.
Dibandingkan dengan orang yang tinggal di permukiman yang tak terlalu parah, mereka yang tinggal di permukiman yang paling banyak dilucuti secara sosial-ekonomi rata-rata menghadapi resiko 22 persen lebih tinggi untuk meninggal selama 10 tahun masa studi, tak peduli apa pun makanan dan bagaimana gaya hidup mereka.
"Ini adalah masalah kesehatan masyarakat; kita perlu memberi perhatian yang lebih besar kepada orang yang tinggal di permukiman miskin," kata Doubeni.
"Kita perlu menujukan campur-tangan kesehatan masyarakat bagi semua permukiman ini, yang dilucuti secara sosial-ekonomi dengan meningkatkan sumber daya kesehatan dan lingkungan fisik di daerah itu," demikian kesimpulan Doubeni. (*ek)