Siak, (berita2.com): Kegiatan bongkar muat peti kemas di pelabuhan perusahaan bubur kertas PT Indah Kiat Pulp and Paper (IKPP) di Perawang, Kabupaten Siak, Riau, Rabu, lumpuh akibat aksi pegiat Greenpeace yang mengantungkan diri di alat derek peti kemas.
Sebanyak 12 pegiat Greenpeace berseragam baju oranye dan memakai helm putih terlihat bertahan di tiga "crane" perusahaan yang tingginya sekitar 40 meter itu.
Lima orang dari para aktivis itu mengikatkan diri di kawat "crane" dan bergelantungan sambil membentang spanduk yang bertuliskan "Climate Crime" dan "You Can Stop This".
Dua orang aktivis Greenpeace lainnya naik ke sebuah derek yang masih kosong dan langsung membentangkan spanduk.
Puluhan petugas pengamanan perusahaan bersama polisi terus berusaha membujuk aktivis menghentikan aksi maut itu. Satpam perusahaan berseragam hitam membawa anjing dan pengeras suara.
Sejumlah petugas pengamanan ada yang memanjat derek untuk membujuk aktivis agar mereka turun. Tapi upaya itu ditolak aktivis.
Akhirnya petugas perusahaan itu menurunkan ujung alat derek, tempat sejumlah pegiat beraksi. Belum diketahui nasib para aktivis yang berada di alat derek tersebut.
Pelabuhan IKPP berada di pinggir sungai Siak, sungai terdalam di Indonesia. beberapa kapal tanker terlihat berlabuh di dermaga perusahaan kertas itu. Di sana juga terdapat sejumlah tumpukan peti kemas.
Aksi yang dilakukan para aktivis di pagi hari itu menarik perhatian awak kapal dan warga yang lewat di perairan tersebut.
"Aksi yang kami lakukan ini karena perusahaan ini masih menggunakan kayu alam," kata juru kampanye hutan Greenpeace Asia Tenggara Bustar Maitar.
Menurut Bustar, PT Indah Kiat, yang merupakan anak perusahaan Sinar Mas, perusahaan yang masih mengunakan kayu alam dari hutan Riau, harus bertanggung jawab terhadap kehancuran hutan gambut Semenanjung Kampar.
Menurut dia, protes itu mengikutsertakan aktivis Greenpeace dari Indonesia dan sejumlah negara lain.
Pada 12 November, para aktivis Greenpeace merantai diri mereka di tujuh alat berat milik PT RAPP di Pelalawan. Aksi itu dilakukan, karena Greenpeace berpendapat, perusahaan tersebut ikut meluluhlantakan hutan rawa gambut Semenanjung Kampar.
Sejak awal November, Greenpeace membuka kamp penyelamatan hutan rawa gambut Semenanjung Kampar di Desa Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan.
"Kami ingin Presiden Yudhoyono mewujudkan komitmennya untuk menghentikan penghancuran sisa hutan di Indonesia," ujar Bustar.(*ek)