Kupang, (berita2.com) : Wilayah perairan budidaya rumput laut di sekitar Desa Landu dan Oenggeo di Kecamatan Pantai Baru, Kabupaten Rote Ndao di Pulau Rote, NTT, mulai tercemar minyak mentah (crude oil) yang datang dari Laut Timor.
"Air sepanjang pantai hingga Selat Pukuafu yang menjadi lokasi budidaya rumput laut, warnanya mulai memutih seperti susu dan berminyak. Upaya budidaya rumput laut akhirnya batal dilaksanakan," kata seorang petani rumput laut ,Idris Mera yang dikonfirmasi dari Kupang, Rabu.
Idris Mera mengatakan, areal budidaya rumput laut hingga selat Pukuafu mencapai ribuan hektare, sehingga membuat para petani rumput laut di wilayah Pantai Baru mulai resah dengan kondisi perairan budidaya yang sudah mulai tercemar minyak mentah itu.
Muntahan minyak mentah itu diduga kuat berasal dari ladang gas Montara di Laut Timor yang meledak pada 21 Agustus lalu.
Sampai saat ini, upaya untuk menghentikan kebocoran minyak dari ladang gas tersebut oleh PTTEP Australasia, sebuah perusahaan minyak asal Thailand yang mengolah ladang gas itu, belum juga berhasil meski sudah menggunakan peralatan teknologi canggih.
Minyak mentah serta partikel lainnya yang dimuntahkan dari ladang gas Montara itu dilaporkan rata-rata mencapai 500.000 liter setiap hari atau sekitar 1.200 barel.
Kondisi inilah yang membuat perusahaan minyak milik mantan Perdana Menteri Thailand Thakshin Shinawatra yang dikudeta militer negara itu dua tahun lalu bertambah panik, karena muntahan minyak tersebut akan membawa dampak buruk terhadap lingkungan perairan di sekitar Laut Timor.
Idris Mera mengatakan, ketika melihat perubahan warna air laut yang menjadi lokasi budidaya rumput laut mulai memutih seperti susu dan berminyak, ia bersama para petani rumput laut lainnya terpaksa menarik tali yang digunakan untuk membudidayakan komoditas "emas hijau" itu.
Kredit
Sehari sebelumnya, seorang petani rumput laut di pantai selatan Pulau Rote, Sadli H Ardani juga melaporkan bahwa ribuan hektare rumput laut di pantai selatan pulau itu di daerah Pepela dan sekitarnya, diduga sudah tercemar minyak mentah sehingga tidak bisa dipanen.
"Ribuan hektare rumput laut itu tidak bisa dipanen. Banyak orang mengatakan terkena penyakit `ice-ice`, tetapi kami menduga kuat karena tercemar tumpahan minyak mentah dari Laut Timor," kata Sadli.
Berdasarkan laporan Otorita Keselamatan Maritim Australia (AMSA), tumpahan minyak mentah itu sudah memasuki wilayah Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia, sekitar 51 mil dari Pulau Rote, pulau terselatan Indonesia.
"Kami tidak bisa berbuat apa-apa lagi dalam menghadapi masalah ini. Bagaimana dengan kredit kami di bank dan pengusaha antara Rp10 juta sampai Rp20 juta untuk usaha budidaya rumput laut. Bagaimana kami mengembalikan pinjaman tersebut jika usaha kami gagal," kata Idris dalam nada tanya.
Ia bersama Sadli mengharapkan Bupati Rote Ndao, Lens Haning untuk segera mengatasi masalah yang dihadapi petani rumput laut saat ini, karena kondisi yang mereka hadapi saat ini sungguh sangat buruk.(*un)