berita2.com (Jakarta): “Bila kita tidak menambah anggaran belanja untuk konservasi lingkungan alam maka kita akan kehilangan setengah dari semua spesies tanaman dan hewan di dunia” - Profesor Hugh Possingham.
Kedutaan Besar Australia dengan bangga mengumumkan kunjungan ke Indonesia oleh ilmuwan besar Profesor Hugh Possingham pada 15 - 16 Agustus 2011.
Possingham akan memberikan kuliah dan diskusi dengan anggota masyarakat ilmu pengetahuan Indonesia, pejabat pemerintah, dosen dan mahasiswa tentang ilmu konservasi dan alokasi dana.
“Saya yakin kunjungan Profesor Possingham akan memberi inspirasi kepada para ilmuwan dan pembuat kebijakan konservasi Indonesia untuk terus melanjutkan karya besar mereka dalam bidang mereka masing-masing. Kunjungan tersebut juga akan menawarkan kesempatan yang baik kepada ilmuwan Australia dan Indonesia untuk memperdalam pengetahuan mereka dan bertukar gagasan tentang kesempatan-kesempatan penelitian lebih lanjut,” ujar Duta Besar Australia untuk Indonesia, Greg Moriarty dalam siaran pers Kedutaan Besar Australia yang diterima berita2.com Senin 15 Agustus 2011.
Kedutaan Besar Australia dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia akan menyelenggarakan kuliah oleh Profesor Possingham pada 16 Agustus 2011 berjudul Bisnis Keanekaragaman Hayati: Ilmu Keputusan Masalah Konservasi.
Profesor Sangkot Marzuki, Direktur Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia, yakin kunjungan dan kuliah Possingham akan memperkukuh hubungan dan kerja sama penelitian antara Indonesia dan Australia.
Kunjungan Possingham ke Indonesia adalah bagian dari program “Seri Pembicara Internasional di Asia” yang diselenggarakan oleh Akademi Ilmu Pengetahuan Australia.
Possingham adalah profesor Ekologi dan Matematika di Universitas Queensland, anggota dewan Akademi Ilmu Pengetahuan Australia, dan Direktur Pusat Unggulan Keputusan Lingkungan Hidup di Dewan Penelitian Australia.
Beliau mempunyai karir yang panjang dan harum dalam perencanaan konservasi dan merevolusi bagaimana organisasi melakukan prioritas pada keputusan-keputusan konservasi mereka.