berita2.com: Kegelapan abadi di kedalaman samudra adalah tempat tinggal bagi jauh lebih banyak hewan, mulai dari ubur-ubur yang berkilau sampai cacing-pipa (tubeworm) --yang hidup dari minyak yang merembes dari dasar laut, dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya, kata beberapa ilmuwan.
Sebanyak 17.650 spesies hewan, yang juga meliputi udang, terumbu karang, bintang laut, atau kepiting, telah diidentifikasi di perairan yang tak tersentuh sinar Matahari dan dingin pada kedalaman sekitar lima kilometer.
"Keragaman hayati di laut dalam amat sangat jauh lebih besar dibandingkan yang kita duga," kata Robert Carney dari Lousiana State University, sebagaimana dilaporkan kantor berita Inggris, Reuters. Ia secara bersama memimpin satu studi mengenai kedalaman samudra sebagai bagian dari Sensus Kehidupan Kelautan (COML) internasional.
"Ngarai yang sangat dalam itu bukanlah lubang hitam lagi," kata Carney, Minggu (22/11) mengenai survei yang dilakukan dengan menggunakan kamera yang diturunkan ke dasar samudra dalam dengan menggunakan teknologi suara dan teknologi lain.
Cahaya secara khusus menembus sekitar 200 meter ke dalam lautan --dibandingkan dengan puncak Washington Monument, yang memiliki tinggi 169 meter-- dan zona di luarnya telah lama dipandang sebagai gurun dengan tekanan yang sangat kuat.
Di luar jangkauan sinar Matahari, banyak makhluk harus mengeksploitasi bakteri, misalnya yang menerobos metan dan minyak, atau makanan yang jatuh dari permukaan seperti bangkai ikan paus.
Di antara makhluk tersebut terdapat ubur-ubur yang berkilau dan makhluk agar-agar yang dikenal sebagai gurita bersirip, atau "Dumbo", karena hewan itu mengepakkan sirip yang mirip telinga dan kelihatan seperti gajah terbang dalam cerita kartun.
"Dumbo", yang memiliki panjang dua meter, termasuk di antara makhluk besar ngarai yang sangat dalam tersebut, yang juga meliputi ikan hiu atau ubur-ubur "siphonophore", kata Mike Cecchione dari Smithsonian Institution.
"Siphonophore telah dilaporkan memiliki tubuh yang lebih panjang dibandingkan dengan ikan paus biru," katanya. "Census of Marine Life" adalah proyek 10 tahun yang direncanakan selesai pada Oktober 2010.
Pengeboran minyak
Di salah satu bagian Teluk Meksiko, para ahli menemukan "cacing-pipa" pada kedalaman 990 meter di dasar laut. Ketika lengan robot mengangkatnya dari satu lubang di dasar laut, minyak menyemprot --hewan itu mengkonsumsi bahan kimia dan minyak yang membusuk.
Carney mengatakan, perusahaan minyak memusatkan perhatian pada survei geologi guna menemukan kandungan tapi kehadiran "cacing-pipa" juga dapat menjadi penanda.
"Anda tentu saja memiliki satu sumber atau metan atau bahan bakar cair tak jauh, jika anda menemukan `cacing-pipa`," katanya.
Namun, Carney mengatakan, banyak ilmuwan terganggu oleh kelaziman pandangan bahwa laut dalam tak menimbulkan kekhawatiran dan upaya guna mengeksploitasi sumber daya memajukan pengetahuan mengenai kedalaman dan makhluk yang hidup di sana.
Nyaris tak ada yang diketahui mengenai semua itu. Hanya tujuh dari 680 spesies binatang air yang berkulit keras yang dikenal dengan nama "copepod", yang baru-baru ini dikumpulkan di Atlantik tenggara, dapat diidentifikasi.
Satu perjalanan lagi mendapati cacing pemangsa tulang ikan paus yang pertama kali direkam, "osedax".
Kendati dasar samudra selamanya gelap, banyak hewan menciptakan cahaya mereka sendiri --dengan penanda yang berkilau guna membantu menemukan atau menarik korban atau pasangan mereka-- dan memiliki mata yang berfungsi.
Segelintir makhluk mengunjungi ngarai yang sangat dalam tersebut dari daerah yang terkena sinar Matahari, satu anjing laut gajah selatan didata berada pada kedalaman 2.388 meter.
Pemanasan global, yang disulut oleh kegiatan manusia seperti pembakaran bahan bakar fosil, mungkin juga mempengaruhi kedalaman yang sangat dingin.
"Ada bukti mengenai pemanasan di sebagian daerah samudra dalam dan peningkatan keasaman," kata Vecchione.(*/wan)