Demikian ungkap Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Gunungkidul, Ir. Anik Indarwati, M.P melalui Kabid Kehutanan S.B. Silalahi, S.Hut, M.P kepada wartawan di ruang kerjanya, Kamis (24/11/2011).
Kegiatan penghijauan hutan rakyat yang juga termasuk dalam program rehabilitasi hutan dan lahan tersebut, kata Silalahi, sampai dengan bulan November ini kemungkinan belum bisa dilaksanakan, mengingat kondisi curah hujan di Kabupaten Gunungkidul masih belum stabil. Artinya jangan sampai bibit yang sudah terlanjur ditanam, mati lantaran kekurangan air.
Oleh karena itu, pihaknya juga masih mewaspadai adanya kemungkinan terjadi hujan pedatan. Oleh karena itu ratusan ribu bibit tanaman keras diantaranya jati, mahoni, sengon serta aneka tanaman buah terpaksa belum bisa dikirim kepada kelompok tani hutan rakyat.
Menurut dia, lahan kritis di Gunungkidul saat ini tercatat mencapai 15.000 hektar, sehingga harus segera diselamatkan melalui berbagai langkah, diantaranya melalui gerakan penghijauan. Kendati memang untuk jumlah pendanaan maupun luas lahan yang dihijaukan tahun ini terbilang sangat minim.
Sementara itu CV. Esa Yogyakarta yang dihubungi terpisah menyatakan siap melakukan dropping bibit aneka tanaman seperti jati, mahoni, sengon, akasia, mangga, rambutan, pete serta sukun sesuai dengan kontrak.
“Kami tinggal menunggu instruksi dari Dinas Kehutanan dan Perkebunan kapan dropping bibit akan dilakukan. Silakan saja lihat-lihat di kebun persemaian kami,” ujar Esti dan Arif Riyanto, pemilik CV. Esa Yogyakarta kepada wartawan berita2.com. (Wheny Marissa)


















