berita2.com (Jakarta): Greenpeace menyatakan bahwa hasil audit Independent Verification Exercise Team (IVEX) sesuai dengan temuan LSM lingkungan itu terkait dengan praktik operasionalisasi PT Sinar Mas Agro Resources and Technology (SMART) Tbk.
"Audit secara umum membenarkan temuan-temuan Greenpeace dan menunjukkan bahwa perusahaan tersebut telah membabat hutan dan lahan gambut," kata Juru Kampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara, Bustar Maitar, dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Rabu (11/8/2010).
Menurut Bustar, telah terjadi pemutarbalikkan fakta oleh perusahaan tersebut sebagai upaya untuk melindungi diri dan tidak berbuat apa-apa. Contoh dari pemutarbalikkan tersebut, jelasnya, antara lain mengenai penyebutan manajemen air dan lahan yang terdegradasi untuk menutupi pengrusakan terhadap lahan gambut dan hutan.
Greenpeace antara 2007 sampai Juli 2010 telah merilis beberapa laporan yang membeberkan dampak operasi divisi pulp dan kertas serta kelapa sawit dari kelompok perusahaan tersebut terhadap iklim, hutan, gambut, serta habitat harimau dan orangutan.
Selain itu, LSM bidang lingkungan tersebut juga menyatakan ketidaksetujuannya terhadap rencana ekspansi perkebunan kelapa sawit yang terkait dengan area yang sangat penting bagi keberlangsungan orangutan dan lahan gambut yang kaya karbon.
Untuk itu, Greenpeace menginginkan agar pemerintah Indonesia harus memastikan komitmen moratorium mencakup penghentian semua perusakan hutan, termasuk izin di area hutan yang sudah diberikan.
Greenpeace juga mendesak agar pemerintah memastikan perlindungan segera terhadap lahan gambut.
Sebelumnya, SMART menyatakan hasil laporan IVEX menunjukkan bahwa perusahaan itu merupakan pelaku usaha yang bertanggung jawab dan memiliki peran penting mendorong produksi minyak kelapa sawit lestari.
Menurut Direktur Utama SMART Daud Dharsono, laporan independen itu menunjukkan bahwa tuduhan yang dilontarkan LSM lingkungan Greenpeace merupakan gambaran yang keliru.
Laporan tersebut, ujar dia, juga menunjukkan bahwa kegiatan yang dilakukan Smart penuh dengan tanggung jawab dan integritas terkait dengan pengembangan dan pengelolaan perkebunan kelapa sawit.
Laporan IVEX itu disusun oleh "Control Union Certification" (CUC) dan BSI Group, yang keduanya merupakan badan sertifikasi terkemuka di dunia, dan dibantu oleh tenaga ahli dari Institut Pertanian Bogor (IPB).
IVEX menyimpulkan antara lain bahwa konsesi lahan yang dikaji merupakan hutan sekunder dan lahan yang terdegradasi dan tidak lagi menjadi hutan primer sebelum SMART memulai membuka dan melakukan penanaman.
Hal tersebut diverifikasi antara lain dari menganalisis sejarah penggunaan lahan, pengamatan dari dekat proses kompensasi, dan pengambilan sampel dari pepohonan yang masih ada.
Selain itu, SMART juga dinyatakan telah memenuhi semua persyaratan perizinan yang dibutuhkan seperti izin pemanfaatan kayu (IPK) dan analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) terkait dengan pengembangan lahan untuk lima area konsesi di Kalimantan Barat.
IVEX juga menyimpulkan bahwa proses degradasi area hutan yang merupakan habitat orangutan terjadi sebelum SMART mulai membuka dan melakukan penanaman.
Lingkungan
Audit Umum Buktikan Sinar Mas Rusak Hutan dan Lahan Gambut
Bantuan Untuk Korban Banjir Pakistan
berita2.com (Jakarta): Menko Kesra Agung Laksono didampingi Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Syamsul Maarif, Kamis (5/8/2010) malam melepas bantuan kemanusiaan untuk korban banjir di Pakistan.
Bantuan dari pemerintah Indonesia tersebut diserahterimakan kepada Dubes Pakistan untuk Indonesia di hanggar khusus kargo Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, di tengah suasana hujan yang mengguyur sebagian wiklayah Jabodetabek.
Bantuan tersebut dikoordinasikan melalui Kemko Kesra dan BNPB. Pemerintah Indonesia telah menyiapkan bantuan untuk korban banjir di Pakistan. Rabu (4/8), telah dikirim tim pendahulu ke sana sebanyak empat orang, kemudian menyusul sekitar 20 orang lagi yang diberangkatkan Jumat (6/8) siang bersama bantuan kemanusiaan.
Bantuan kepedulian bangsa Indonesia terhadap negara lain yang tengah tertimpa musibah tersebut total sebanyak 13,5 ton senilai sekitar 1,3 juta dolar AS, dan dikirim dengan pesawat kargo.
"Selama ini jika negara kita terkena bencana bangsa lain juga kerap membantu meringankan beban kita," kata Agung.
Adapun bantuan tersebut berupa 4.000 lembar selimut (2 ton), permakanan 50 paket (3,5 ton), obat-obatan (3 ton), dan makanan pendamping ASI (5 ton).
Agung menambahkan, Pakistan selama ini memiliki hubungan baik dengan Indonesia dan memiliki kepedulian yang tinggi saat Indonesia pernah terkena musibah Tsunami.
"Karena itu bantuan kemanusiaan tersebut merupakan bentuk keprihatinan Pemerintah Indonesia bagi saudara-saudara kita di Pakistan," katanya.
Pemerintah Indonesia menyatakan keprihatinannya atas bencana banjir di Pakistan yang mengakibatkan ribuan orang tewas dan akan memberikan bantuan kemanusiaan untuk meringankan para korban yang menderita.
"Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan keprihatinan terhadap bencana banjir di Pakistan yang jumlahnya mencapai sekitar 1.600 orang, kata Agung.
Agung menjelaskan, Presiden telah menginstruksikan untuk pengiriman bantuan kemanusiaan ke Pakistan guna mengurangi beban para korban yang menderita. (her)
Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya
Sinarmas Melanggar Janji
berita2.com (Jakarta): Investigasi terbaru Greenpeace memperlihatkan bahwa PT Sinar Mas merupakan salah satu perusak terbesar hutan Indonesia. Ekspansi agresif yang dilakukan oleh Sinarmas menyebabkan deforestasi sejumlah lahan gambut serta mengancam habitat orang utan. Perusahaan itu dinilai telah melanggar janji
“Kita telah menangkap basah Sinarmas menghancurkan hutan alam berharga kita, dan melanggar janji bahwa mereka akan memperbaiki operasi mereka, sehingga Sinarmas memperhatikan masa depan hutan Indonesia dalam pembukan lahan baru dalam ekspansi bisnisnya,” ujar Bustar Maitar, Juru Kampanye Greenpeace.
Hasil penyelidikan Greenpeace mengungkapkan bahwa perusahaan Sinarmas telah terus menerus melanggar hukum dan peraturan kehutanan Indonesia.
"Sebuah perusahaan sinarmas (PT. Agro Lestari Mandiri) telah membuka lahan baru 4.000 hektar di Ketapang, Kalimantan Barat. Dimana dikawasan tersebut terkandung high carbon area atau lahan gambut," jelas Bustar ketika memaparkan hasil temuan Greenpeace, 'pelanggaran yang dilakukan grup sinarmas', di Jakarta, Kamis (29/07/2010).
Menurut Bustar, dengan pembukan lahan baru dapat menyebabkan orang utan kehilangan hutan, mereka pun kehilangan sumber makanan alami dan harus berjuang untuk bertahan hidup.
Selain itu, unit usaha Sinarmas seperti PT.Kartika Cipta Prima juga bermasalah, hasilnya menunjukkan bahwa areal perkebunan yang dimiliki oleh Sinarmas (PT.Kartika Cipta Prima) memiliki gambut yang dalam, sedalam sekitar tujuh meter di beberapa tempat dan harus dilindungi menurut hukum Indonesia.
Menurut Bustar, bahwa lahan yang berpotensi memiliki lahan gambut itu tidak boleh ada pembukaan lahan di kedalaman tiga meter.
Menyusul pengungkapan terbaru ini, Greenpeace meminta Sinar Mas untuk secara jujur dan terbuka menyajikan kepada publik detail peta seluruh kepemilikan lahan mereka.
"Agar bisa muncul analisa mengenai daerah mana yang merupakan daerah kritis untuk keanekaragaman hayati dan perlindungan iklim, serta apa yang mereka lakukan di daerah itu," sambung Bustar.
Lebih lanjut Bustar mengatakan, bahwa fokus greenpeace selama ini adalah kepada kerusakaan alam lingkungan atau deforestasi hutan diseluruh dunia, selama ini hasil pantauan greenpeace dilapangan dalam setiap pembukaan lahan baru sinarmas mengabaikan hasil pantauan dari Analisis Dampak Lingkungan (Amdal).
Ikan Lele Raksasa Terancam Punah

berita2.com (Bangkok): Kelompok pelestarian lingkungan ternama memperingatkan bahwa ikan air tawar terbesar di dunia bisa punah jika negara-negara Asia Tenggara melanjutkan rencana pembangunan bendungan di sungai Mekong.
Ikan lele raksasa Mekong, yang panjangnya bisa mencapai tiga meter, sudah menurun jumlahnya. Dalam sebuah laporan yang disiapkan hari Rabu, Dana Satwa Liar Dunia (WWF) mengatakan jika ikan itu dihambat dari tempatnya bertelur maka ikan-ikan itu bisa benar-benar punah.
Roger Mollot, ahli biologi air tawar WWF di Laos mengatakan ikan raksasa itu tidak akan bisa berenang melintasi penghalang besar seperti bendungan untuk mencapai tempat bertelur mereka di hulu sungai.
Tiongkok, Laos, Thailand dan Kamboja berencana membangun 11 pusat listrik tenaga air sepanjang sungai Mekong yang terpanjang di kawasan itu.
Para pelestari lingkungan mengatakan bendungan-bendungan itu akan mengubah sama sekali ekosistem sungai itu, merugikan perikanan yang sangat penting bagi kehidupan lebih dari 60 juta orang.
Seekor Ikan Paus 40 Ton Timpa Kapal Layar
berita2.com (Johannesburg): Ralph Mothes dan Paloma Wener dari Akademi Layar Cape Town di Afrika Selatan sudah kawakan dalam hal ekspedisi di lautan lepas, namun mereka terkesima ketika ikan paus seberat 40 ton menimpa perahu layar mereka.
Kedua orang tersebut telah bekerja selama lima tahun di perairan Afrika Selatan. Mereka telah menyaksikan beragam makhluk raksasa dari jauh dalam banyak ekspedisi pelayaran mereka, demikian laporan London Daily Telegraph, Kamis (22/7/2010).
Tetapi awal pekan ini mereka mendapat pengalaman luar biasa ketika berhadapan dengan satwa liar raksasa samudra.
Saat mereka sedang berlayar di lepas pantai Cape Town tersebut, pasangan itu melihat ikan paus raksasa "menghentakkan ekornya ke air" sekitar 300 kaki dari perahu mereka. Lalu hewan mamalia laut tersebut menghilang ke dalam laut.
Tetapi ikan paus itu muncul lagi dalam jarak yang lebih dekat --sekitar 70 kaki dari mereka-- lalu menyelam lagi, kata London Daily Telegraph.
Mereka saat itu sedang melakukan pelayaran rutin di dekat Robben Island, ketika ikan paus dengan bobot sekitar 40 ton melompat dari dalam laut dan mendarat di geladak perahu mereka, kata surat kabar tersebut, sebagaimana dilaporkan di jejaring pencari Yahoo.com dengan alamat http://news.yahoo.com/. "Sungguh mempesona tapi juga menakutkan," kata Werner.
Karena menduga ikan paus itu akan menyelam ke bawah perahu, Mothes memberi tahu Wener agar menggeser perahu mereka ke sisi lain supaya mereka dapat melihat hewan raksasa tersebut muncul lagi dari air.
Suara berikut yang Mothes dengar ialah, "Oh, ...!" "Lalu saya cuma melihat ikan paus yang sangat besar menghantam perahu layar kami," katanya.
Mothes berlindung di balik kemudi, dan Werner selamat dengan berlindung di bawah bangunan di perahu. Beberapa wisatawan yang sedang berlayar di dekat kedua orang itu mengambil gambar peristiwa tersebut, kata surat kabar itu.
Menurut London Daily Telegraph kedua orang itu beruntung sebab mereka selamat dalam peristiwa tersebut, demikian juga dengan ikan paus itu.
Mereka terkejut, tapi tidak cedera, dan mulai melihat berkeliling untuk memperkirakan kerusakan pada perahu mereka, sementara ikan paus tersebut pergi.
Mereka beruntung sebab perahu mereka terbuat dari logam, sehingga cukup kuat untuk menahan benturan dengan ikan paus. Hanya tiang dan batang layar yang rusak. "Dalam kejadian yang lebih besar, itu adalah kerusakan kecil," kata Werner, tapi "itu cukup mahal".
Halaman 1 dari 31
Lingkungan

















