Pontianak, (berita2.com): Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak mengenalkan teknologi pengganti pondasi tradisional tiang tongkat rumah dari kayu belian yang biasa digunakan penduduk di Kalimantan Barat saat membangun rumah dengan beton.
"Teknologi mengganti tiang tongkat dari kayu belian menggunakan beton, selain murah juga tahan terhadap serangan rayap," kata Ketua Tim Program Penerapan Iptek Teknik Sipil Untan, Rustamaji di Pontianak, Kamis.
Ia menjelaskan penggunaan pondasi beton untuk tongkat rumah juga ramah lingkungan. Selain itu untuk mengantisipasi semakin sulitnya mendapatkan kayu belian yang saat ini hanya ditemukan di hutan Kabupaten Ketapang.
"Idealnya kayu belian yang tahan terhadap rayap untuk bangunan rumah usianya sudah di atas 50 tahun ke atas. Di bawah itu kekuatannya diragukan," kata Rustamaji.
Selain itu, harga kayu belian juga sangat tinggi sekitar Rp150 ribu untuk ukuran 10 X 10 centimeter dengan panjang dua meter. Sementara jika menggunakan pondasi beton paling membutuhkan biaya Rp100 ribu per batang ukuran 20 X 20 centimeter.
Ia tidak dapat membayangkan kalau masyarakat di Kalbar secara terus menerus menggunakan kayu belian sebagai bahan utama untuk membuat rumah.
"Sekarang saja hutan sudah gundul akibat ditebang untuk membuat kayu sebagai bahan bangunan dan keperluan lainnya, apalagi 20 tahun mendatang," katanya.
Selain itu, bahan baku rumah menggunakan kayu juga tidak tahan terhadap serangan rayap yang cenderung gemar hidup di tanah bergambut seperti struktur tanah di provinsi itu pada umumnya, kata Rustamaji.
Sebelumnya, Peneliti dan Dosen Fakultas Kehutanan Untan, Dr Yuliati Indrayani mengatakan, sebanyak 100 jenis rayap masuk kategori hama perusak paling ganas dari 2.500 jenis rayap yang ada.
"Adapun jenis rayap perusak yang paling ganas ada sekitar 47 jenis, yaitu 6 jenis dari famili Kalotermitidae (rayap kayu kering), famili Rhinotermitidae (rayap tanah) ada 25 jenis, di antaranya 1 jenis dari famili Mastotermitidae, dan 15 jenis dari famili Termitidae (rayap tanah)," katanya.
Ia mengatakan, jika dilihat dari kastanya ada tiga, yaitu kasta reproduktif, kasta pekerja dan kasta prajurit. "Yang terlibat langsung dan identik dengan kerusakan aset-aset milik manusia yaitu dari kasta pekerja," ujarnya.
Tiga jenis rayap yang merusak bangunan, yaitu Coptotermes sp, Cryptotermes cynocephalus serta Macrotermes gilvus. Menurut dia, jenis rayap perusak Coptotermes sp merupakan rayap perusak dengan tingkat serangan paling ganas.
"Banyak kasus di lapangan jenis rayap Coptotermes sp mampu merusak bagian bangunan yang terbuat dari kayu hingga ke lantai atas suatu bangunan bertingkat," ujarnya.
Dari data yang ada, kerugian akibat serangan rayap di Indonesia bisa mencapai Rp200 miliar per tahun, di Amerikas kerugian akibat rayap mencapai 4 juta dolar AS atau kerusakan akibat rayap jauh lebih merusak dibanding badai, kebakaran dan gempa bumi, kata Yuliati.(*ek)



















