berita2.com: Beberapa ilmuwan Australia, Selasa (15/12), mengungkapkan spesies bersulur-delapan dapat membawa batok kelapa untuk digunakan sebagai "baju baja" --kasus pertama ada hewan yang tak bertulang punggung menggunakan alat.
Ahli biologi penelitian Julian Finn mengatakan, ia "sangat terkejut" saat pertama kali melihat gurita seukuran kepalan tangan, Amphioctopus marginatus, mengambil dan berlari dengan cepat dengan "alat pelindung" yang dapat dibawa-bawa di sepanjang dasar laut.
"Kami biasanya tak mengaitkan prilaku rumit dengan spesies yang tak bertulang punggung --dengan bentuk kehidupan yang lebih rendah saya kira," kata Finn, dari Museum victoria, sebagaimana dikutip kantor berita Prancis, AFP.
"Dan perilaku seperti penggunaan alat dan tingkah laku kompleks biasanya kami kaitkan dengan hewan yang tak bertulang punggung yang lebih tinggi: manusia, keras, beberapa jenis burung, ya, seperti itu lah," katanya.
"Studi ini, jika ada, memperlihatkan bahwa prilaku rumit ini tak terbatas pada kita. Semua itu sebenarnya digunakan oleh sangat banyak hewan," katanya.
Penggunaan alat dipandang sebagai salah satu alat yang menegaskan kecerdasan dan, kendati mulanya dipandang hanya terdapat pada manusia, sejak itu telah ditemukan pada primata lain, mamalia dan burung.
Tetapi itu adalah pertama kali perilaku tersebut telah ditemukan pada hewan yang tak bertulang punggung, demikian artikel yang ditulis bersama oleh Finn dan disiarkan di jurnal yang berpusat di AS, "Current Biology".
Finn mengatakan ketika ia pertama kali melihat gurita berjalan dengan canggung dengan membawa "tempurungnya", ia tidak mengetahui apakah itu hanyalah contoh aneh mengenai prilaku sinting di bawah laut oleh hewan yang kerabat terdekatnya adalah keong.
"Jadi selama masa lebih dari 10 tahun, pada dasarnya kami mengamati sebanyak 20 gurita dan kami mestinya telah menyaksikan empat gurita berbeda yang membawa tempurung kelapa dan menempuh jarak yang sangat jauh," kata Finn mengenai penelitiannya di Indonesia.
"Ada banyak yang kita kubur bersama kelapa di lumpur. Namun, kami melihat empat gurita yang benar-benar mengambil tempurung itu dan membawanya, berjalan sambil membawanya menjelajahi dasar laut sambil menyimpannya di bawah tubuh mereka. Itu adalah pemandangan yang menarik," katanya.
Finn menyatakan hewan tersebut lebih lamban dan lebih rentan terhadap pemangsa sewaktu membawa pecahan tempurung, yang belakangan mereka gunakan sebagai tempat berlindung.
"Mereka melakukan itu untuk mengambil manfaatnya belakangan dan itu lah apa yang membuatnya berbeda dari hewan yang mengambil sesuatu dan menaruhnya di kepalanya untuk memperoleh manfaat seketika," kata Finn.
Hewan lain lebih mungkin ditemukan saat mereka memperlihatkan prilaku serupa, katanya.(*/wan)