Surabaya, (berita2.com): Sosiolog dan peneliti Prancis Patrick Haenni membedah problematika "Islam politik" di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) "Sunan Ampel" Surabaya, Jumat (4/12).
Dalam diskusi Islam yang bekerja sama dengan CCCL (Pusat Kebudayaan Prancis) Surabaya itu, Haenni mengupas perkembangan gerakan Islam politik.
"Pada tahun 1970, Gerakan Ihwanul Muslimin di Mesir pada awalnya melakukan gerakan dengan rahasia, lalu berubah menjadi gerakan terbuka dengan masuk ke parlemen," katanya.
Setelah masuk ke parlemen dan menjadi gerakan politik, katanya, tujuan Ihwanul Muslimin adalah mendirikan Negara Islam.
"Dalam perkembangan moderen, gerakan Islam politik itu secara umum harus dihormati sebagai bentuk demokrasi," kata penulis buku `L`Islam de marche: l`autre revolution conservatrice` (2003) itu.
Menurut dia, dunia Barat yang selama ini diklaim sebagai antigerakan Islam politik, ternyata dalam praktiknya sangat menghormati kelompok-kelompok politik.
"Contohnya, di beberapa Negara Eropa banyak lembaga-lembaga yang melakukan kerja sama dengan kelompok-kelompok Islam politik dalam bentuk penelitian-penelitian," lanjutnya.
Dengan kerja sama itu, kata peneliti kelahiran Lutry, Swiss pada tahun 1968 itu, gerakan Islam politik juga dapat didorong menjadi gerakan intelektual.
Senada dengan itu, dosen Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya Dr. H. Nasaruddin, MA., mengatakan para peneliti Barat menilai Islam Politik adalah kelompok Islam yang melakukan gerakan keagamaan di bidang politik dengan menggunakan simbol-simbol Islam.
"Kelompok itu menjadikan agama sebagai gerakan politik, di antaranya menyuarakan terbentuknya Negara Islam, penerapan syariat Islam, yang intinya membawa agama Islam ke dalam kancah politik praktis," katanya.
Namun, katanya, gerakan Islam politik itu hanya mampu mencapai gerakan otopis dan tidak pernah mampu merealisasikan aksi-aksi mereka dalam bentuk nyata.
"Jika kita menghabiskan separuh kehidupan kita hanya untuk melakukan aksi-aksi seperti dilakukan kelompok Islam politik yang terpaku pada simbol-simbol, maka akan menjadi lebih indah bila kita mewujudkan ajaran-ajaran Islam dalam kehidupan publik, meskipun tanpa menonjolkan simbol keislamannya," katanya.(*/wan)