Untuk itu perseroan akan membutuhkan dana investasi antara Rp500 miliar - Rp1 triliun guna pembangunan jaringan menara BTS dan pengembangan produk. "Dana untuk investasi di teknologi WiMax setidaknya mencapai Rp1 triliun, akan kita dapatkan dari kas internal dan dari eksternal seperti pinjaman perbankan. Bisa juga dari pasar modal, semua opsi akan kita jajaki dan cari yang terbaik," kata Direktur Keuangan KBLV, Indra Djaja, dalam paparan publik di Jakarta, Jumat. Menurut dia, untuk tahap awal perseroan akan membangung 10 "base transceiver station" (BTS) di wilayah Jabodetabek. Saat ini di wilayah tersebut ada sekitar 1,7 juta potensi pelanggan. "Dalam 3-4 tahun ke depan, 1 juta pelanggan WiMAX akan dapat kita raih. Setelah Jabodetabek, kita akan masuk ke Sumatera Utara," ujarnya. Pada Agustus 2009, perseroan telah ditunjuk secara resmi oleh pemerintah sebagai salah satu pemenang tender untuk menyelenggarakan jaringan tetap lokal berbasis Packet Switched yang menggunakan Pita Frekuensi Radio 2.3Ghz untuk keperluan Pita Lebar Nirkabel di wilayah Jabodetabek, Banten dan Sumatera Utara. Dia menambahkan dengan adanya pengembangan teknologi WiMAX dan pengembangan teknologi internet berkecepatan tinggi hingga 10 mega byte per second (MBps), perseroan berharap, pendapatan dan laba bersih perseroan akan meningkat dua kali lipat pada akhir 2010. Hingga akhir 2009, KBLV menargetkan pendapatan akan mencapai Rp760-780 miliar dan laba bersih diproyeksikan sekitar Rp50 miliar. Sementara, pada akhir September, pendapatan tersebut telah mencapai RpRp531,261 miliar dengan laba bersih Rp46,679 miliar.(*ek)
Jakarta, (berita2.com): PT First Media Tbk (KBLV) akan mulai mengembangkan teknologi akses nirkabel pita lebar (Broadband Wireless Access/BWA) WiMAX pada 2010.


















