Ankara, (berita2.com): Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan, Sabtu, mengecam Israel sebagai oditur, dalam percekcokan lisan paling akhir sejak agresi Israel ke Jalur Gaza mencuatkan ketegangan antara kedua sekutu regional tersebut.
"Turki sejak dulu tak pernah, dalam sejarah, memihak jaksa penuntut, Turki selalu membela orang yang tertindas," kata Erdogan tanpa secara langsung menyebut nama Israel dalam pidatonya di kota Kirsehir di bagin tengah negerinya.
"Turki tak memiliki permusuhan dengan negara mana pun, tapi ... kami menentang ketidak-adilan," kata Erdogan dalam pernyataan yang disiarkan oleh stasiun televisi.
Hubungan antara kedua strategis mulai memburuk pada Januari, ketika Turki dengan keras mengutuk serangan 22 hari oleh Israel ke Jalur Gaza, yang dilancarkan "untuk menangkal serangan roket oleh gerilyawan Palestina".
Hubungan bertambah tegang pekan lalu, ketika Ankara mengeluarkan negara Yahudi itu dari pelatihan militer gabungan tahunan, sehingga mengundang kecaman dari Amerika Serikat.
Dalam beberapa hari belakangan, Israel mengecam serangkaian pernyataan Turki yang ditayangkan oleh stasiun televisi yang mencela tentara Israel secara sengaja membunuh anak-anak Palestina.
Menteri Luar Negeri Turki Ahmet Davutoglu, Jumat, mengatakan hubungan akan membaik ketika tragedi kemanusiaan di Jalur Gaza berakhir dan upaya perdamaian Timur Tengah hidup kembali.
Erdogan telah berada di depan dalam kecaman internasional terhadap agresi Israel tersebut.
Dalam kecaman yang tak pernah dilontarkan sebelumnya, ia dalam satu perdebatan di Forum Ekonomi Dunia pada Januari mengutuk tindakan barbar Israel dan mengatakan kepada Presiden Israel Shimon Peres, yang duduk di sebelahnya, "Anda mengetahui dengan baik cara membunuh orang."
Pada Kamis, Komisaris Tinggi PBB Urusan Hak Asasi Manusia menyatakan para pemimpin Israel dan Palestina mesti melakukan penyelidikan mengenai dugaan kejahatan perang di Jalur Gaza guna membantu membangun kepercayaan dan mendukung perdamaian.
Dalam satu pertemuan yang berlangsung sampai Jumat, utusan Jenewa bertemu guna mempertimbangkan resolusi yang menghukum Israel karena gagal bekerja sama dengan misi pencari fakta yang ditugasi PBB mengenai perang Desember-Januari di Jalur Gaza.
Namun Israel telah menolak tuduhan di dalam laporan tersebut dan menyatakan resolusi Dewan HAM --yang dirancang oleh Palestina, Mesir, Nigeria, Pakistan dan Tunisia atas nama Gerakan Non-Blok, Afrika, negara Arab dan Islam-- "mengancam upaya perdamaian".
Perdana Mengteri Israel Benjamin Netanyahu pada Kamis (15/10) mengatakan Israel takkan dapat memikul "risiko bagi perdamaian", kalau negara itu tak dapat membela diri dari serangan terhadap warganya.(*/wan)





















