Kabul, (berita2.com) : NATO pada Jumat (19/2) mengumumkan kematian dua lagi tentaranya dalam gempuran besar di Afghanistan selatan, menjadikan enam jumlah yang tewas dalam sehari pertempuran.
Kebangsaan kedua tentara itu tidak diungkap, sesuai dengan kebijakan, dalam pernyataan singkat Pasukan Bantuan Keamanan Asing (ISAF) pimpinan persekutuan pertahanan Atlantik utara NATO.
"Dua anggota ISAF tewas kemarin dalam Gerakan Gabungan di Afghanistan selatan," katanya, merujuk pada serangan gencar di daerah kebun apiun di propinsi Helmand, yang dimulai pada sepekan lalu.
"Satu anggota tewas akibat tembakan senjata genggam dan satu lagi tewas sesudah kejadian serupa terpisah," katanya.
Juru bicara ISAF, Sersan Jeff Loftin, memastikan tentara NATO tewas pada Kamis berjumlah enam orang.
ISAF pada Kamis malam melaporkan kematian empat tentara asing pada siangnya, yakni tiga oleh ranjau --berjumlah besar ditanam pejuang banyak di daerah sasaran-- dan satu akibat tembakan.
Sekutu itu tidak menyebut kebangsaan tentara tersebut, sejalan dengan kebijakan NATO, tapi pejabat pertahanan Inggris kemudian menyatakan dua tentara Inggris tewas pada Kamis sebagai bagian dari penyerangan NATO terhadap pejuang Taliban.
Sejak gempuran itu dimulai pada Sabtu, 19 tentara asing tewas di Afghanistan, kebanyakan dari mereka dalam gerakan Gabungan.
Menurut hitungan kantor berita Prancis AFP berdasarkan atas angka laman mandiri icasualties.org, 85 tentara asing tewas di Afghanistan pada 2010. Jumlah korban pada Januari ditambah Februari tahun lalu adalah 49 orang.
Sejumlah 1.654 tentara asing tewas di Afghanistan sejak serbuan pimpinan Amerika Serikat pada 2001, dengan tentara negara adidaya itu di urutan pertama dengan 996 orang, diikuti Inggris (263) dan Kanada (140).
Amerika Serikat dan NATO memunyai lebih dari 120.000 tentara di Afghanistan untuk memerangi Taliban, akan mencapai 150.000 pada Agustus dengan pelonjakan tambahan tentara oleh Presiden Amerika Serikat Barack Obama.
Taliban, yang memerintah Afghanistan sejak 1996, mengobarkan perlawanan sejak digulingkan dari kekuasaan di negara itu oleh serbuan pimpinan Amerika Serikat pada 2001, karena menolak menyerahkan pemimpin Alqaida Osama bin Ladin, yang dituduh bertanggung jawab atas serangan di wilayah negara adidaya itu, yang menewaskan sekitar 3.000 orang pada 11 September 2001.
Banyak di antara mereka tewas akibat IED, yang ditanam pejuang Taliban. Bom rakitan, yang ditanam di jalanan, menjadi penyebab sebagian besar kematian tentara asing itu.
IED (bom rakitan) murah dan mudah dibuat, sebagian besar menggunakan pupuk dan pemicu dari telepon genggam. Peledak rakitan menjadi "senjata pilihan" Taliban, kata perwira tinggi sandi tentara Amerika Serikat, yang baru-baru ini menyatakan IED merenggut sampai 90 persen jiwa pasukan asing.
Pemimpin tentara menyatakan mencoba mengembangkan cara baru untuk berurusan dengan ancaman IED, tapi mendapati bahwa Taliban sudah mengubah siasat dengan cepat. IED biasanya buatan sendiri, yang diledakkan oleh kendali jauh dan sering berserakan di jalan dan jalan raya, yang dipakai tentara asing, khususnya di kubu Taliban di provinsi Helmand dan Kandahar.(*un)





















