Kematian itu terjadi pada Sabtu di Afghanistan barat, yang baru-baru ini mengalami peningkatan dalam kegiatan Taliban, kata pernyataan ISAF
Pasukan pimpinan persekutuan pertahanan Atlantik utara NATO itu tidak merinci kejadian tersebut.
Hingga kini pada 2009, 408 tentara asing tewas di Afghanistan, 242 di antara mereka asal Amerika Serikat, kata angka kantor berita Prancis AFP berdasarkan atas hitungan laman mandiri icasualties.org.
Perang itu, sekarang dalam tahun kesembilannya, menghebat sesudah Presiden Amerika Serikat Barack Obama --secara mengejutkan mendapat hadiah Nobel Perdamaian tahun ini-- mempertimbangkan permintaan pemimpin tentara akan puluhribuan lagi serdadu.
NATO dan Amerika Serikat menempatkan lebih dari 100.000 tentara di Afganistan untuk bertempur melawan kebangkitan Taliban.
Bom buatan rumahan atau peledak rakitan (IED) menjadi kendala dalam upaya menumpas Taliban, karena kecil, tersembunyi dan sulit dilacak.
Taliban, yang memerintah Afghanistan sejak 1996, mengobarkan pemberontakan sejak digulingkan dari kekuasaan di negara itu oleh serbuan pimpinan Amerika Serikat pada 2001, karena menolak menyerahkan pemimpin Alqaida Osama bin Ladin, yang dituduh bertanggung jawab atas serangan di wilayah negara adidaya tersebut, yang menewaskan sekitar 3.000 orang pada 11 September 2001.
Gerilyawan Taliban sangat bergantung pada penggunaan bom jalanan dan serangan jibaku untuk melawan pemerintah Afghanistan dan pasukan asing, yang ditempatkan di negara terkoyak perang tersebut untuk menopang kekuasaannya.
Bom rakitan, yang dikenal dengan IED, mengakibatkan 70-80 persen korban di pihak pasukan asing di Afganistan, kata tentara.
Pemimpin tentara menyatakan mencoba mengembangkan cara baru untuk berurusan dengan ancaman IED, tapi mendapati bahwa Taliban sudah mengubah siasat dengan cepat.
IED, yang diledakkan oleh kendali jauh, sering berserakan di jalanan, yang dilalui tentara asing, khususnya di kubu Taliban di propinsi Helmand dan Kandahar.
Dukungan di Amerika Serikat untuk perang di Afganistan mencapai dasar baru, kata jajak pendapat disiarkan pada tengah September.
Jajak pendapat Penelitian Pendapat CNN menunjukkan tingkat tentangan pada kemelut delapan tahun itu, dengan 58 persen petanggap mengatakan menentang perang itu, sementara 39 persen mendukung.
Jajak pendapat itu melibatkan 1.012 orang Amerika Serikat pada 11-13 September dan mempunyai tingkat kesalahan tiga persen.
Jajak pendapat sebelumnya CNN, yang disiarkan pada dua pekan sebelumnya, menunjukkan 57 persen dari orang Amerika Serikat menentang perang di Afganistan.
Pada Juli, 54 persen dari yang ditanya mengatakan menentang perang itu, sudah dengan tajam naik dari 46 persen pada April.
Pada dua tahun lalu, warga Amerika Serikat lebih merata terbagi mengenai perang itu, dengan 50 persen mendukung dan 48 persen menentang, kata jajak pendapat jaringan berita CNN.
Jajak pendapat di Amerika Serikat menyimpulkan bahwa sebagian besar menganggap perang itu tak bernilai, sementara beberapa sekutu Obama dari Demokrat sudah meletakkan patok banding untuk keberhasilan atau bahkan jadwal penarikan. (* SS)



































