Sheikh Abdallah Al-Mahdoun, mantan pemimpin lapangan gerilyawan Al-Houthi, mengatakan, gerilyawan menerima pelatihan canggih mengenai penggunaan senjata di tangan ahli dari Iran, Lebanon, Somalia dan penduduk setempat yang menerima pelatihan di Iran serta Lebanon selatan.
"Sejak meletusnya perang ketiga yang berlanjut dari akhir 2005 sampai Februari 2006, kami mulai merakit bagian roket yang datang ke kami dari luar negeri dan kami mulai membuat ranjau juga," kata Al-Mahdoun.
Sementara itu, ia memperingatkan bahwa kelompok gerilyawan tersebut memiliki rencana melakukan perluasan di bagian timur dan barat negeri itu dan memulihkan sesuatu yang mereka sebut "peradaban Persia".
Ia menyatakan bahwa gerilyawan dilatih dengan baik untuk menggunakan senjata satelit, radio dan kode bagi komunikasi satu dengan yang lain, dan menambahkan mereka bersembunyi di terowongan dan gua yang seadanya. Diperlukan waktu beberapa tahun untuk menggalinya di pegunungan.
Namun, mantan gerilyawan itu menyatakan gerilyawan mengalami pukulan keras dari militer di banyak daerah selama berlangsungnya perang di bagian utara. Ia menegaskan pemimpin mereka Abdel Malik Al-Houthi telah menderita luka selama satu serangan udara oleh Angkatan Darat.
Al-Mahdoun menyerahkan diri kepada pihak berwenang, menyusul perang kelima di Saada.
Pada hari yang sama, Angkatan Darat Yaman menyatakan telah menewaskan 28 gerilyawan Syiah dalam bentrokan di Yaman utara.
Satu sumber militer yang tak disebutkan jatidirinya mengatakan 25 gerilyawan Al-Houthi tewas selama serangan oleh Angkatan Darat. Setelah itu, Angkatan Darat merebut dua kubu gerilyawan di provinsi Saada.
Tiga gerilyawan lagi tewas dalam bentrokan dengan Angkatan Darat, ketika mereka berusaha menyusup ke satu tempat menguntungkan yang dikuasai militer Yaman.
Sementara itu, Angkatan Darat Yaman menghancurkan empat truk yang membawa banyak senjata dan logistik buat gerilyawan, termasuk satu truk yang berisi senjata artileri berat.(* SS)





















