Beirut, (berita2.com) : Kementerian Luar Negeri Lebanon, Senin, menyatakan tantangan terbesar bagi pelaksanaan Resolusi 1701 Dewan Keamanan PBB datang dari Israel dan pelanggarannya atas resolusi itu sejak 2006, demikian laporan Kantor Berita Nasional (NNA), yang dikelola negara.
"Kantor media kementerian itu mengeluarkan pernyataan yang menanggapi pengumuman paling akhir Asisten Menteri Luar Negeri AS Urusan Timur Dekat, Duta Besar Jeffrey Feltman, mengenai berulangnya ancaman Israel terhadap Lebanon," demikian antara lain isi laporan tersebut.
Pernyataan Kementerian Luar Negeri Lebanon itu menekankan bahwa penting bagi kementerian tersebut untuk meminta perhatian bahwa tantangan terbesar terhadap Resolusi 1701 datang dari Israel sendiri karena Israel telah melanggaran resolusi itu lebih dari 6.000 kali sejak 2006.
Pengumuman Feltman, Ahad, mengutuk Hizbullah karena melanggar Resolusi 1701 PBB dengan menyelundupkan senjata ke dalam wilayah Lebanon selatan.
Resolusi 1701 PBB mengakhiri perang 34 hari antara Israel dan kelompok Syiah yang bersenjata, Hizbullah, pada 2006, dan memperkuat Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL) untuk melaksanakan misi pemelihara perdamaian di Lebanon selatan.
Resolusi PBB itu menuntut perlucutan senjata anggota Hizbullah. Namun, Hizbullah, yang memiliki anggota yang terlatih dan peralatan yang baik, telah menjelaskan senjatanya tak perlu diperdebatkan.(*un)





















