Kabul (berita2.com): Serangan bom menewaskan seorang prajurit AS di Afghanistan, kata NATO, Minggu (27/12), sehingga jumlah korban tewas Amerika di negara itu menjadi dua kali lipat tahun ini dibanding dengan 2008, menurut hitungan AFP.
Pasukan Bantuan Keamanan Internasional (ISAF) pimpinan NATO mengatakan, prajurit itu tewas dalam ledakan bom improvisasi (IED), pembunuh terbesar pasukan asing dalam perang delapan tahun di Afghanistan.
"Seorang prajurit ISAF asal AS tewas setelah serangan IED di Afghanistan selatan pada Sabtu (26/12)," kata pasukan itu dalam sebuah pernyataan.
Jumlah prajurit asing yang tewas di Afganistan tahun ini telah mencapai 506, menurut hitungan AFP yang berdasarkan atas angka-angka dari situs independen icasualties.org yang mencatat korban tewas militer di Afghanistan dan Irak.
Dari jumlah kematian itu, 310 orang adalah prajurit AS, menurut data yang diperoleh AFP. Jumlah korban tewas itu dua kali lipat dari angka kematian militer AS pada 2008.
Pada 2008, jumlah prajurit asing yang tewas di Afghanistan mencapai 295.
Penambahan pasukan asing tahun ini semakin mengobarkan perang di provinsi-provinsi Kandahar dan Helmand, yang merupakan pusat Taliban Afghanistan selatan.
Para ahli mengatakan, akan semakin banyak korban yang tewas dengan pengiriman pasukan asing tambahan itu -- 30.000 dari AS dan 6.800 dari negara-negara lain NATO -- yang dilakukan hingga 2010.
Ketua Kepala Staf Gabungan AS Laksamana Mike Mullen memperingatkan selama kunjungan ke Kabul bulan ini bahwa kekerasan akan memburuk sebelum mereda karena Taliban menguasai setidaknya sepertiga dari wilayah Afghanistan.
Tahun ini tidak saja mematikan bagi prajurit, polisi dan warga sipil Afghanistan namun juga bagi pasukan internasional yang memerangi Taliban. Sebagian besar kekerasan terjadi di provinsi-provinsi selatan seperti Kandahar dan Uruzgan.
Presiden AS Barack Obama mengumumkan bulan ini pengiriman 30.000 prajurit tambahan ke Afghanistan untuk bergabung dengan pasukan AS dan ISAF pimpinan NATO yang berada di negara itu untuk memerangi gerilyawan.
Delapan tahun setelah penggulingan Taliban dari kekuasaan di Afghanistan, lebih dari 40 negara bersiap-siap menambah jumlah prajurit di Afghanistan hingga mencapai sekitar 150.000 orang dalam kurun waktu 18 bulan, dalam upaya baru memerangi gerilyawan.
Lebih dari 500 prajurit asing tewas sejak Januari, yang menjadikan 2009 sebagai tahun paling mematikan bagi pasukan internasional sejak invasi pimpinan AS pada 2001 dan membuat dukungan publik Barat terhadap perang itu merosot.
Saat ini terdapat lebih dari 110.000 prajurit internasional, terutama dari AS, yang ditempatkan di Afghanistan untuk membantu pemerintah Presiden Hamid Karzai mengatasi pemberontakan yang dikobarkan sisa-sisa Taliban.
Taliban, yang memerintah Afghanistan sejak 1996, mengobarkan pemberontakan sejak digulingkan dari kekuasaan di negara itu oleh invasi pimpinan AS pada 2001 karena menolak menyerahkan pemimpin Al-Qaeda Osama bin Laden, yang dituduh bertanggung jawab atas serangan di wilayah Amerika yang menewaskan sekitar 3.000 orang pada 11 September 2001.
Serangan-serangan Taliban terhadap aparat keamanan Afghanistan serta pasukan asing meningkat dan puncak kekerasan terjadi hanya beberapa pekan menjelang pemilihan umum presiden dan dewan provinsi pada 20 Agustus.
Gerilyawan Taliban sangat bergantung pada penggunaan bom pinggir jalan dan serangan bunuh diri untuk melawan pemerintah Afghanistan dan pasukan asing yang ditempatkan di negara tersebut.
Bom rakitan yang dikenal sebagai IED (peledak improvisasi) mengakibatkan 70-80 persen korban di pihak pasukan asing di Afghanistan, menurut militer.(*/wan)