Dalam kunjungan pertamanya di ibukota Rusia sebagai menlu AS, Ny. Clinton akan bertemu dengan Menlu Rusia Sergei Lavrov dan Presiden Dmitry Medvedev untuk membahas topik utama, namun juga berupaya untuk mewujudkan perdamaian di Timur Tengah dan Afghanistan.
Seorang pejabat AS mengatakan, Hillary yang melakukan konsultasi dengan timpalannya dari Inggris mengenai Iran Ahad, akan menanyakan kepada dua petinggi Rusia itu mengenai `apa bentuk spesifik tekanan Rusia yang dirancang untuk digabungkan dengan usul kami dan sekutu kami lainnya jika Iran gagal melaksanakan kewajibannya.`
Pejabat senior Deplu AS, yang berbicara dengan para wartawan dengan syarat tak disebut namanya membenarkan, bahwa sanksi-sanksi akan dibahas oleh para pemimpin itu sebagai bentuk tekanan tersebut.
AS, Rusia, China, Inggris, Prancis - kelima anggota tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa (DK PBB) - plus Jerman, atau yang dikenal sebagai P5-plus-1 ingin agar Iran menghentikan program pengayaan uranium yang disengketakan itu.
Negara-negara Barat khawatir program itu hanya kedok untuk pembuatan bom atom - satu tuduhan yang dibantah Teheran, yang menegaskan bahwa programmya adalah untuk energi nuklir untuk keperluan damai.
AS, Prancis dan Inggris mengangkat tanda bahaya mengenai niat Iran tersebut, ketika pihaknya membeberkan akhir September, bahwa Teheran punya pabrik pengayaan uranium kedua yang dibangun secara rahasia di dekat kota suci Qom.
Kendatipun demikian, Iran juga telah bersikap kooperatif sejak ikut ambil bagian dalam perundingan dengan P5-plus-1 di Jenewa pada awal tahun ini.
Medvedev melegakan AS bulan lalu ketika dia mengatakan, bahwa dalam beberapa situasi yang memungkinkan sanksi-sanksi itu bisa tak bisa dielakkan.
P5-plus-1 punya alat untuk membuat DK PBB menyetujui sanksi-sanksi putaran ketiganya, meskipun Rusia dan China sampai kini masih menentang sanksi-sanksi keras tersebut.
Pejabat AS juga mengatakan, Ny. Clinton ingin membahas satu usulan dalam mana Iran bisa mengapalkan uraniumnya ke Rusia untuk proses pengayaan selanjutnya, yang bisa mengurangi kekhawatiran-kekhawatiran mengenai penggunaan hasil pengayaan itu.
Sebuah sumber dekat dengan perundingan AS-China mengenai Iran mengatakan kepada surat kabar `Kommersant` Senin, bahwa `kami siap untuk menerapkan sanksi-sanksi jika hanya dalam kasus tidak adanya perubahan penting untuk menjadikan masa depan lebih baik.`
Ny.Clinton dan Lavrov juga diperkirakan akan membahas masalah pertahanan rudal serta perundingan-perundingan untuk menggantikan Perjanjian Pengurangan Senjata Strategis (START) 1991.
Lavrov telah menyeru bagi perlunya klarifikasi penuh mengenai sistem pertahanan rudal berpangkalan laut baru.
Pemerintah Obama telah mengungkapkan rencananya bulan lalu, untuk menggantikan versi sebelumnya, yang didukung oleh George W. Bush, untuk menggelar fasilitas pertahanan rudal di Polandia dan Republik Czech.
Rusia menentang keras usulan mantan presiden AS itu.
START, yang memberikan batasan-batasan ketat kepada sistem persenjataan AS dan Rusia, dipandang sebagai pemicu strategi pengawasan senjata era Perang Dingin, akan berakhir masa berlakunya 5 Desember.
Kini para perunding berupaya membahas pengganti perjanjian itu.
Ny. Clinton, yang pekan lalu mencerca kegagalan Rusia membawa kep pengadilan para pembunuh wartawan dan para aktivis hak asasi manusia (HAM), Selasa akan bertemu dengan masyarakat sipil Rusia guna membahas rekor HAM Moskow.
Hillary Rabu akan berkunjung ke Kazan, kota yang sebagian besar penduduknya Muslim di Tatarstan.
Kunjungan tersebut adalah persinggahan terakhir lawatan lima harinya setelah juga mengunjungi Zurich, London, Dublin dan Belfast. (*SS)





















