Bangkok, (berita2.com) : Perdana Menteri Thailand, Senin (8/3), mengatakan bahwa dia membatalkan lawatannya ke Australia setelah pihak berwenang menyeru aksi keamanan ketat diberlakukan untuk mengatasi unjuk rasa anti pemerintah pekan ini.
Kepala Keamanan telah memperingatkan mengenai kemungkinan timbulnya bentrokan dengan para pendukung mantan perdana menteri Thaksin Shinawatra di Bangkok, 14 Maret mendatang, dua pekan setelah pengadilan menyita 1,4 miliar dolar kekayaan jutawan itu.
Perdana Menteri saat ini Abhisit Vejjajiva telah berencana untuk melakukan lawatan ke Australia pada 13-17 Maret namun berkata kepada para wartawan bahwa kehadirannya diperlukan ketika Undang-Undang Keamanan Dalam Negeri diberlakukan pada 11-23 Maret.
Pemerintah sebelumnya mengumumkan rencana untuk memberlakukan hukum yang lebih keras untuk mengatasi aksi unjuk rasa kelompok "kaos merah" , yang memberi ijin militer untuk membantu polisi dan memberikan kekuasaan bagi pihak berwenang untuk memberlakukan jam malam dan melarang pertemuan.
"Menjelang pemberlakukan itu, saya harus ada disini," kata Abhisit.
"Ini adalah hal yang buruk karena Thailand dan Australia adalah sahabat dan mitra dagang penting."
Kelompok "kaos merah" telah melakukan serangkaian aksi unjuk rasa sejak pengadilan memutuskan untuk menyingkirkan sekutu Thaksin dari pemerintahan dan memberikan kekuasaan kepada Abhisit pada Desember 2008, setelah sebuah aksi penutupan bandara di Bangkok oleh kelompok pesaingnya, kelompok "kaos kuning".
Thaksin, yang setelah digulingkan pada kudeta 2006 tinggal di pengasingan untuk menghindari hukuman penjara dua tahun karena penyuapan, terus melanjutkan upayanya untuk memecah belah masyarakat Thailand, terutama antara para pendukungnya di pedesaan dan elit di Bangkok yang membencinya.(*un)



































