Bangkok, (berita2.com) : Polisi Thailand mengatakan mereka menjinakkan sebuah bom dekat gedung Mahkamah Agung , Ahad (14/2), sementara sebuah granat meledak dekat kantor-kantor pemerintah, menjelang keputusan tentang nasib kekayaan mantan Perdana Menteri Thaksin Shinawatra bulan ini.
Insiden di tengah kota Bangkok itu tidak menimbulkan korban. Tetapi itu terjadi walaupun pemerintah menggelar paling tidak 20.000 personil keamanan tambahan di seluruh Thailand menjelang keputusan pengadian 26 Februari tentang mantan PM Thaksin, yang kini tinggal di pengasingan.
Perdana Menteri Abhisit Vejjajiva, yang menghadapi protes para pendukung Thaksin sejak berkuasa Desember 2008, menuduh unsur-unsur anti pemerintah berusaha membuat kerusuhan.
"Motif itu adalah untuk menimbulkan kekacauan. Saya tidak bsia digoyangkan oleh perang urat syaraf," kata Abhisit kepada wartawan.
"Pemerintah tetap mengawasi gerakan-gerakan itu karena kami mendengar bahwa satu kelompok tertentu orang ingin melihat kegagalan pemerintah. Kamis selalu menduga itu."
Polisi mengatakan para penyerang yang tidak dikenal menembakkan sebuah granat Sabtu malam ke sebuah universitas di seberang Kantor Pemerintah -- kantor Abhisit dan kabinetnya.
Sebuah mobil, sebuah truk dan satu ruang tempat penyimpanan barang-barang hancur akibat ledakan granat itu, kata Kolonel polisi Rangsan Pradiiphon.
Ahad pagi seorang petugas keamanan menemukan satu kotak kardus berisikan bahan peledak plastik seberat 1,4kilogram yang ditempeli kabel listrik di halaman dekat gedung Mahkamah Agung , kata polisi.
Para penjinak bom telah menyingkirkan kotak kardus itu, kata komandan polisi distrik Jenderal King Kwangvisatchaichan.
Mahkamah Agung menurut rencana akan menjatuhkan vonis apakah kekayaan Thaksin-- yang dibekukan beberapa bulan setelah digulingkan dalam kudeta militer tahun 2006 dapat disita oleh pihak berwenang.
Pemerintah khawatir reaksi balasan dari kelompok "baju Merah" yang pro Thaksin jika pengadilan menyetujui tindakan seperti itu. Gerakan itu meningkatkan demonstrasi-demonstrasi anti pemerintah menjelang keputusan Mahkamah Agung itu.
Kendatipun tinggal di luar negeri sejak Agustus 2008, Thaksin tetap seorang tokoh berpengaruh di tanah airnya , masih populer di kalangan rakyat miskin tetapi dikecam oleh elit yang berpusat di Bangkok .
Kedua kelompok yang bermusuhan -- apa yang disebut "Baju Kuning" dan para pendukung "Baju Merah" melakukan sejumlah unjuk rasa tahun lalu, yang kadang-kadang rusuh.(*un)