Ho Chi Minh City, (berita2.com) : Satu kelompok pembangkang Vietnam mulai diadili di Vietnam, Rabu kemungkinan mereka menghadapi hukuman mati atas tuduhan berusaha menggulingkan rezim komunis , satu kasus yang memicu kecemasan internasionall.
Ahli komputer pendidikan Prancis dan bloger Nguyen Tien Trung , 26 tahun, pengacara hak asasi manusia Le Cong Dinh, 41 tahun dan usahawan internet Tran Huynh Duy Thuc dituduh "melakukan kegiatan yang bertujuan menumbangkan pemerintah rakyat". kata satu tuduhan yang dikutip surat kabar Thanh Nien.
Tuduhan-tuduhan itu, jika terbukti, para terdakwa dapat dijatuhi hukuman 12 tahun penjara dan hukuman mati.
Itu adalah kasus yang menyangkut orang-orang yang punya peran penting dalam serangkaian penahanan dan penghukuman terhadap para pembangkang dan blogger di negara komunis itu dalam tahun belakangan ini.
Orang keempat yang diadili, Le Thang Long dituduh sebagai kaki tangan . ia menghadapi ancaman jukuman lima sampai 15 tahun penjara jika terbukti bersalah.
Menjelang sidang tiu, puluhan polisi berseragam menjaga kompleks Pengadilan Rakyat di tengah Ho Chi Minh City, dulu bernama Saigon.
Para terdakwa ditahan di kota itu antara Mei dan Juli tahun lalu. Tuduhan awal adalah melakukan "propaganda" terhadap .negara , satu tuduhan yang dapat dihukum penjara , kemudian diubah menjadi tuduhan yang lebih berat.
Para pengamat mengatakan penahanan itu adalah bagian dari tindakan keras yang telah lama dilakukan dan mencerminkan kepekaan negara satu partai itu pada musuh-musuh luar negeri.
Tuduhan itu, seperti yang diberitakan Thanh Nien, menyatakan bahwa tiga terdakwa penting itu mempersiapkan puluhan dokumen anti negara dan blog-blog.
Dalam surat dakwaan itu Thuc meramalkan satu "pemerintah baru" tahun ini dan pembubaran Partai Komunis yang berkuasa tahun 2020. Dinh menyusun sebuah konstitusi baru, sementara Trung bersama dengan para mahasiswa di Prancis, mendirikan satu "gerakan pemuda demokratik".
Surat kabar itu menyiarkan pernyataan-pernyataan bahwa tuduhan itu memiliki hubungan dengan Partai demokratik Vietnam (DPV).
DPV memilika akarnya di Partai Komunis . Partai itu dilarang tahun 1980-an tetapi dihidupkan kembali tahun 2006 oleh Hoang Minh Chinh, mantan pejabat komunis yang menjadi pembangkang dan meninggal tahun 2008.
Penahanan Dinh , khususnya, menimbulkan kecemasan Eropa , Amerika Serikat, satu asosiasi pengacara internasional, para pengawas hak asasi manusia dan kelompok-kelompok kebebasan pers di seluruh dunia.
Anggota parlemen Eropa Prancis Nicole Kill-Nielsen menyerukan pembebasan Trung dalam sepucuk surat kepada kedutaan besar Vietnam di Prancis, menyebut dia sebagai seorang "demokrat dan pencinta damai". Surat itu dikirim ke satu blog yang didirikan para pendukung Trung.
Seorang mantan pejabat senior dalam Partai Komunis mengemukakan kepada AFP bahwa Trung dan Dinh memiliki reputasi yang baik di kalangan pemuda Vietnam , dan pihak berwenang khawatir gagasan-gagasan mereka dapat menyebar luas.
Pandangan-pandangan mereka mengenai pluralisme dan demokrasi "tidak dapat diterima oleh rezim itu," kata pejabat yang tidak bersedia namanya disebutkan itu.
Carl Thayer , seorang pakar Vietnam dari "University New South Wales" di Australian Defence Force Academy, mengutip satu alasan lainnya .
Artikel-artikel Dinh dan blog-blog mengenai masalah-masalah luas "merupakan satu tantangan langsung pada penguasa dan legitimasi politik dari para pejabat tinggi partai dan negara ", kata Thayer dalam sebuah tulisan media akademi itu baru baru ini.
Seorang pembangkang lainnya dipenjarakan selama lima setengah tahun bulan lalu karena berusaha melakukan tindakan subversi. Tran Anh Kim, 60 tahun , mantan letnan kolonel dituduh terlibat persekongkolan dengan Partai Demokratik Vietnam.