Phnom Penh, (berita2.com) : Perdana Menteri Kamboja Hun Sen pada Selasa memicu pertikaian diplomatik dengan Thailand setelah mengeluarkan pernyataan bahwa pemerintahan di negara tetangganya itu tak akan bertahan dan memberi cap kepada menteri luar negerinya sebagai "pemimpin teroris".
Hubungan antara Kamboja dan Thailand yang telah terlibat dalam serangkaian bentrokan perbatasan, mencapai tingkat rendah baru pada akhir tahun lalu ketika Phnom Penh mengangkat mantan perdana menteri Thaksin Shinawatra sebagai penasehat ekonomi.
Dalam acara wisuda mahasiswa, Hun Sen mengatakan pemerintah Thailand kini "tak akan berlangsung lama" dan berjanji menantikan pemerintahan baru mengambii alih kekuasaan di Bangkok sebelum memulihkan hubungan diplomatik sepenuhnya.
Thailand dan Kamboja memanggil para duta besar mereka pada November dan mengusir diplomat senior akibat pengangkatan Thaksin oleh Hun Sen. Thaksin tinggal di luar negeri menghindari pemenjaraan dirinya karena tuduhan korupsi di negerinya.
Ketegangan diplomatik meningkat ketika Phnom Penh waktu itu menolak mengekstradisi Thaksin pada lawatan pertamanya ke Kamboja dalam perannya yang baru.
PM Thailand Abhisit Vjjajiva naik ke tampuk kekuasaan pada Desember 2008 dan harus mengadakan pemilihan pada Desember 2011. Ia berkuasa setelah blokade bandar udara Bangkok tahun 2008 yang menjatuhkan pemerintahan pro-Thaksin.
Hun Sen mengecam Menteri Luar Negeri Thailand Kasit Piromya karena terlibat dalam blokade itu, yang dilakukan oleh gerakan "Kemeja Kuning". Gerakan tersebut juga turut meletupkan kudeta yang menggulingkan Thaksin pada 2006.
"Anda merupakan ketua teroris dalam pengepungan bandar-bandar udara karena sejumlah warga Kamboja juga tersandera di bandara," kata Hun Sen Selasa, merujuk ke Kasit.
Kasit menjadi sasaran empuk orang kuat Kamboja itu setelah ada tudingan yang menyebut Hun Sen "gangster" dalam debat parlemen tahun lalu. Menlu tersebut mengatakan pada saat itu komentar-komentarnya diterjemahkan tak tepat.
Hun Sen juga menyatakan kembali klaim Kamboja atas wilayah yang dipersengketakan di sekitar kuil purbakala di perbatasan kedua negara itu. Pernyataan tersebut telah memicu serangkaian bentrokan sejak pertengahan 2008 dan sebanyak tujuh orang tewas dalam bentrokan itu.
Media Thailand melaporkan Selasa bahwa Thaksin akan mengunjungi Kamboja lagi pada akhir Januari untuk mengkoordinasikan lebih baik protes-protes baru antipemerintah di Thailand oleh para pendukungnya, yang dikenal dengan nama kelompok "Kemeja Merah".(*un)