Washington, (berita2.com) : Amerika Serikat Senin (5/1) menyatakan sangsi apakah pemilu di Myanmar mendatang akan bisa dipercaya, dan menyerukan rezim militer negara itu untuk menggandeng oposisi dan suku minoritas.
Pemimpin Myanmar, Jenderal Senior Than Shwe, dalam pesan yang disiarkan Senin untuk memperingati 62 tahun kemerdekaan, menyerukan kepada rakyatnya untuk memberikan `pilihan yang besar` dalam pemilu yang rencananya akan diselenggarakan dalam tahun 2010 ini.
Juru bicara departemen luar negeri, Ian Kelly, mengatakan AS telah melakukan tindakan pendekatan terhadap pemilu itu, sampai kegiatan tersebut bisa memenuhi syarat-syarat, termasuk apakah oposisi dan kelompok-kelompok etnis akan ikut ambil bagian dalam pemilu tersebut.
"Sejauh yang tidak kami ketahui adalah adanya langkah-langkah berarti yang dilakukan oleh rezim untuk menunjukkan dilakukannya tindakan-tindakan, yang bisa membuat pemilu layak dipercaya," kata Kelly.
"Banyan pemimpin oposisi hingga kini masih di penjara, tidak ada ruang untuk berbeda politik atau debat, dan tidak ada pula kebebasan pers," kata Kelly.
Kelly menyeru Myanmar, yang dulu dikenal sebagai Burman, untuk mengajak pemimpin oposisi Aung San Suu Kyi dan para pemimpin etnis untuk melakukan dialog menyeluruh mengenai perubahan demokrasi.
"Ini akan menjadi langkah pertama ke arah pemilu yang terbuka," katanya.
Pemilu mendatang adalah yang pertama dilakukan sejak 1990.
Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) Aung San Suu Kyi menang besar-besaran dalam pemilu tersebut, namun tidak pernah diizinkan untuk mengambil alih pemerintahan oleh pihak militer.
Sebaliknya, Aung San Suu Kyi dijebloskan dalam tahanan rumah selama 20 tahun, meskipun banyak imbauan baginya agar dibebaskan. Suu Kyi bahkan memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian pada 1991.
Pemerintah Presiden AS Barack Obama telah memutar kebijakan terhadap Myanmar, dengan membuka dialog untuk meningkatkan hubungan dengan negara yang sejak lama dipandang miskin oleh AS.
Para pemimpin oposisi Myanmar mengatakan, pemilu mendatang hanya akan mensahkan kekuasaan militer, dan beberapa di antaranya menyuarakan kekhawatiran bahwa junta menginginkan dialog dengan AS sebagai cara untuk menunggu kesempatan sebelum pemilu digelar.
Senator Jim Webb, penasehatr AS terkemuka mengenai masalah Myanmar, mengatakan bahwa menyambut isyarat Jenderal Than Shwe bahwa pemilu akan dilaksanakan dalam tahun ini.
"Saya telah menyatakan pandangan saya kepada pemimpin Burma, bahwa Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) ataupun organisasi internasional lainnya akan memberikan bantuan yang berarti terhadap pemilu itu, dan mengharapkan pemilihan memperluas integritas proses tersebut," katanya.
Webb melakukan pertemuan yang jarang terjadi dengan Jenderal Senior Than Shwe dalam kunjungannya ke negara itu pada 2009.
"Saya siap membantu dengan segala cara karena kami bertugas untuk menuju hari (pemilu) itu, pada saat mana rakyat Burma bisa sepenuhnya bergabung kembali dengan masyarakat dunia," kata Webb.(*un)





















