Beijing, (berita2.com) : Pipa saluran yang pecah di China utara telah menyemburkan ribuan galon bahan bakar diesel ke aliran Sungai Kuning, demikian laporan media resmi China, Ahad (3/1).
Tumpahan minyak itu terjadi pada Rabu (30/1) pekan lalu di Sungai Chishui, Provinsi Shaanxi, ketika satu pipa saluran yang dioperasikan oleh China National Petroleum Corporation (CNPC) pecah, demikian pernyataan di pernyataan di jejaring pemerintah kota Weinan.
Tindakan darurat telah dilakukan guna menghentikan kebocoran, dan 23 sabuk penampungan dibuat di arah hilir dari tempat tumpahan dan sebanyak 700 orang berjuang membersihkan minyak yang tumpah, kata pernyataan tersebut.
Para pejabat pemerintah daerah menolak untuk menjelaskan bagaimana bahan bakar diesel itu telah tumpah ke sungai atau mengomentari peristiwa tersebut ketika dihubungi oleh AFP.
Kantor berita resmi China, Xinhua, melaporkan sebanyak 150.000 liter (40.000 galon) bahan bakar diesel telah mengalir ke dalam sungai itu, sekitar 70 kilometer dari Sungai Kuning, salah satu jalur air paling panjang di China.
Minyak sudah dideteksi sekitar 23 kilometer di arah hilir dari tempat tumpahan, kata laporan tersebut.
"Kami harus melakukan tindakan menyeluruh guna menangani tumpahan dan polusi dan secara ketat mencegahnya memasuki Sungai Kuning, dan pada saat yang sama memastikan keamanan air minum," kata Wakil Perdana Menteri Li Keqiang, sebagaimana dikutip Chongqing Evening News.
Departemen lingkungan hidup setempat telah memperingatkan warga agar tak menggunakan air sungai karena air itu dikhawatirkan tercemar, kata laporan tersebut. Penyelidikan awal menunjukkan bahwa pecahnya pipa saluran itu disebabkan oleh satu proyek pembangunan setempat, kata CNPC, salah satu perusahaan gas dan minyak terbesar milik pemerintah China, dalam satu pernyataan.
Pipa saluran tersebut digunakan untuk mengangkut bahan bakar diesel dari Provinsi Gansu di China barat-laut ke beberapa bagian di China tengah, katanya.
Sekitar 30 tahun pertumbuhan ekonomi yang tak terkekang di China telah membuat sebagian besar sungai dan danau di negeri itu tercemar berat, sementara warga kota juga menghadapi polusi udara terburuk di dunia.
Lebih dari 200 juta orang China saat ini tak memiliki akses ke air minum yang aman, demikian data pemerintah.
Pada November 2005, tumpahan besar minyak di sungai Songhua di Provinsi Heilongjiang, China timur-laut, mengakibatkan terhentinya pasokan air bagi sebanyak empat juta orang di ibukota provinsi tersebut, Harbin, sebelum minyak yang tumpah mengalir mengikuti aliran sungai ke Rusia, sehingga menimbulkan krisis diplomatik.(*un)





















